See You at ARTJOG MMXX, 23 July - 30 August 2020

Participating Artist






Etza Meisyara


Born 1992

Selected Exhibitions

Solo Exhibition
2018
ALCHEMIST , Chapelle Des Dames Blanches, La Rochelle, France.
PASSING BY , Lawangwangi Creative Space, Bandung, West Java, Indonesia

Group Exhibition
2019
ARTJOG Common Space , Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
INTO THE FUTURE: PEREMPUAN , National Gallery of Indoensia, Jakarta, Indonesia
2018
AURORA , Toxteth Reservoir, Liverpool, England
Art Jakarta / Bazaar Art Fair , The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Indonesia
Pekan Seni Media , Palu, Central Sulawesi, Indonesia
2017
Bandung Contemporary Art Award , Lawangwangi Creative Space, Bandung, Indonesia
TILU , HBK University Braunschweg, Germany
Bazaar Art , Jakarta, Indonesia
2016
KLANG KUNST , Sound Art Festival in Braunschweig, Germany
Bandung International Digital Art Festival (BIDAF) , Bandung, West Java, Indonesia
Titik Temu Art Space , Bandung, West Java, Indonesia
Today’s Presence , VillaTelle Salse, Bandung, West Java, Indonesia
2015
TOKYO DESIGN WEEK , Tokyo, Japan
Bazaar Art , Installation Works, Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Indonesia
TEMPORAL , Gedung Gas Negara, Bandung, West Java, Indonesia
Jogja Art Moment , Jogjakarta Nasional Museum, Yogyakarta, Indonesia
VOID , Langgeng Art, Magelang, Central Java, Indonesia


Artist In Residences
2018
Centre Intermondes. La Rochelle, France

2014
Listhus Art Space. Olafsfjordur, Iceland
Kubilai Khan Art & Body, Toulon, France


Awards
Best Student in Fine Art. BANDUNG INSTITUTE OF TECHNOLOGY 2018
2nd Winner BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARD 2017
2nd Winner YOUNG CREATOR of TOKYO DESIGN WEEK 2015
Nominee GUDANG GARAM INDONESIAN ART AWARD
Nominee BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARD
Nominee SOVEREIGN ASIAN ART PRIZE 2018


Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga #1

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga #2

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga #3

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga #5

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga #7

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya



Garam di Laut Asam di Gunung bertemu dalam Belanga Juga

Variable dimensions | installation comprising etched copper plates, charcoal, salt, machine, and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut, Asam di Gunung, Bertemu dalam Belanga #4

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut, Asam di Gunung, Bertemu dalam Belanga #6

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut, Asam di Gunung, Bertemu dalam Belanga #8

100 x 100 cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.

Garam di Laut, Asam di Gunung, Bertemu dalam Belanga #9

100 x 200cm | Salt, Ammoniak on Copper plate and sound
2019


Konsep Karya
Mengadopsi peribahasa Indonesia, Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga, Etza Meisyara mencoba mencari hubungan-hubungan antara keyakinan berdasar mitos dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan/sains. Dengan mensintesakan dua keyakinan yang bertentangan itu, ia berharap memperoleh akal sehat, perenungan filosofis dan makna yang lebih mendalam. Ia tertarik dengan mitos tentang garam sebagai material yang dapat mengusir energi negatif. Di Jawa dikenal garam ruwatan untuk ritual membuang sial atau menolak bala. Garam sering ditaburkan di sekitar atau depan pintu rumah untuk mengusir energi buruk, atau hewan berbahaya seperti ular. Di beberapa negara Eropa, ada kepercayaan yang serupa mengenai garam suci yang dapat membersihkan energi, mengalahkan makhluk-makhluk jahat dan mencegah datangnya penyihir di pelabuhan. Menggabungkan bahan kimia, bumbu dapur, mesin dan bunyi, instalasi Etza juga menekankan kepada proses konversi. Ia menaburkan garam di atas plat tembaga yang digetarkan oleh bunyi-bunyian yang dirambatkan pelantang untuk menghasilkan pola. Frekuensi bunyi didapatkan dari proses perekaman di tempat-tempat yang dipercaya membawa pada kengerian dan ketenangan, seperti hutan, ruang kosong di kaki gunung, patahan tanah, dll. Plat–plat tembaga itu kemudian dietsa dengan cairan ammoniak dan garam yang mengandung Natrium Klorida. Proses oksidasi mengunci pola frekuensi menjadi pola visual non-geometris yang acak. Secara mendasar, karya ini merupakan pencarian bentuk-bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu: Gemuruh sebelum hujan besar, suara-suara hewan sebelum terjadinya gunung meletus atau tsunami; desir angin ketika musim kemarau tiba, dll. Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari energi-energi negatif.

Adopting Indonesian proverb Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga (literally: “Salt in the sea, tamarind in the mountain, meet in a melting pot”, meaning: “No matter far, a destined couple will be together eventually”) Etza Meisyara attempts to find connections between myths and scientific beliefs. By synthesizing the two conflicting beliefs, she hope to gain common sense, philosophical contemplation and deeper meaning. She is interested in the myth about salt as a material that can repel negative energy. In Java, cleansing salt has been known as part of the ritual to dispose of bad luck and reject wickedness. Salt is often sprinkled around the house or outside the doorsteps to drive out bad energy, or dangerous animals such as snakes. In some European countries, there is a similar belief about the holy salt that can cleanse energy, defeat evil creatures and prevent witches from coming to port. Combining chemicals, kitchen ingredients, machine and sound, Etza s installation also gives emphasis on the process of conversion. She sprinkled the salt on a copper plate that is vibrated by sounds propagated by loudspeaker to create pattern. She obtained the sound frequencies from some recording processes at some places that are believed to be daunting or calm, such as forests, empty space at the foot of the mountain, earth faults, etc. The copper plates were then etched with liquid ammonia and salt containing Sodium Chloride. The oxidation process locks the frequency pattern into a random non-geometric visual pattern. This work is basically a search for forms of communication in the universe, along with its myths and facts. The universe always has its own sound and silence that signals something: A rumble before a big rain happens, animal sounds before a volcano erupts or a tsunami attacks; the breeze when the dry season arrives, etc. All of that is nothing but a signal for humans to be more sensitive in reading every natural sign. Etza believes that the intersubjectivity between man and nature can prevent us from negative energies.