Participating Artist






UGO UNTORO


Born June 28, 1970, Purbalingga, Central Java, Indonesia

Education
Indonesia Institute of Art, Yogyakarta, Indonesia

Solo Exhibition:
2019
“80nan ampuh” , Kiniko Art, Yogyakarta, Indonesia

2018
“Marang Ibu”, Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok, West Java, indonesia

2015
“Passage”, Retrospective Exhibition, Galeri Gejayan, Yogyakarta, Indonesia

2013
“Melupa”, Ark Galeri, Yogyakarta, Indonesia


Selected Group Exhibitions:

2019
“ARTJOG Common Space”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“mind”, Sarang Building, Yogyakarta

2018
“Kecil itu indah”, Edwin s Gallery, Jakarta, Indonesia
“100 Tahun Hendra Gunawan”, Ciputra Artpreneur, Ciputra World 1, Jakarta, Indonesia

2017
“Art Of Choosing”, Rumah Komik, Yogyakarta, Indonesia
“Sawang Sinawang PEMANDANGAN” , Museum Dan Tanah Liat, Yogyakarta, Indonesia
“Jakarta Biennale : JIWA”, Jakarta, Indonesia

2016
“Sekaliber”, Tahun Mas Artroom, Yogyakarta, Indonesia
“Invisible Force”, Langit Art Space, Yogyakarta, Indonesia
“Manifesto : ARUS”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia

Award
1994
Philip Morris Award, Jakarta
The Jurse Attention

1998
Philips Morris Award, Jakarta. The Best 5 Finalis.
Philip Morris Competion in Hanoi, Vietnam

2007
Man of The Year 2007 versi majalah Tempo
The Best Artis and Work, Quota Exhibition, Galeri Nasional Jakarta by Langgeng Galeri


Disposable Hero no. 13

100 x 120 cm | oil on canvas
2008


Konsep Karya
Manusia harus bisa belajar pada binatang: Seperti Ugo Untoro menemukan refleksi personalnya yang mendalam atas nilai-nilai cinta, kasih sayang, kehidupan dan kematian justru melalui kedekatannya dengan kuda (Equus caballus). Kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangan Ugo pada 2005 masih menyisakan banyak catatan penting untuknya hingga hari ini. Sejak perpisahan itu pula ia terus mendalami hal-ihwal kuda untuk proyek-proyek seninya. Kuda dalam karya-karya Ugo adalah metafor tentang sejarah kebiadaban manusia, perang dan antroposentrisme yang menjadikan binatang makhluk subordinat manusia di muka bumi. Untuk patung-patung dan instalasinya Ugo hanya menggunakan kulit-kulit kuda yang ia dapatkan dari rumah jagal.

Human has to learn from animals: Just as Ugo Untoro finds his deep personal reflections on the values of love and affection, of life and death precisely through his close relationship with horses (Equus caballus). An accident that claimed the life of one of Ugo s beloved horses in 2005 has left important notes for him to this day. Since then, Ugo has continued exploring horse-related subjects in his artworks. Horse in Ugo s works is a metaphor of the history of human savagery, war and anthropocentrism that makes animals subordinate to human on earth. For his sculptures and installations, Ugo only uses horse skins that he obtained from slaughterhouses.

Ephos 1

150 x 200 cm | Mixed media
2008


Konsep Karya
Manusia harus bisa belajar pada binatang: Seperti Ugo Untoro menemukan refleksi personalnya yang mendalam atas nilai-nilai cinta, kasih sayang, kehidupan dan kematian justru melalui kedekatannya dengan kuda (Equus caballus). Kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangan Ugo pada 2005 masih menyisakan banyak catatan penting untuknya hingga hari ini. Sejak perpisahan itu pula ia terus mendalami hal-ihwal kuda untuk proyek-proyek seninya. Kuda dalam karya-karya Ugo adalah metafor tentang sejarah kebiadaban manusia, perang dan antroposentrisme yang menjadikan binatang makhluk subordinat manusia di muka bumi. Untuk patung-patung dan instalasinya Ugo hanya menggunakan kulit-kulit kuda yang ia dapatkan dari rumah jagal.

Human has to learn from animals: Just as Ugo Untoro finds his deep personal reflections on the values of love and affection, of life and death precisely through his close relationship with horses (Equus caballus). An accident that claimed the life of one of Ugo s beloved horses in 2005 has left important notes for him to this day. Since then, Ugo has continued exploring horse-related subjects in his artworks. Horse in Ugo s works is a metaphor of the history of human savagery, war and anthropocentrism that makes animals subordinate to human on earth. For his sculptures and installations, Ugo only uses horse skins that he obtained from slaughterhouses.

Ephos 2

100 x 120 cm | Mixed media
2008


Konsep Karya
Manusia harus bisa belajar pada binatang: Seperti Ugo Untoro menemukan refleksi personalnya yang mendalam atas nilai-nilai cinta, kasih sayang, kehidupan dan kematian justru melalui kedekatannya dengan kuda (Equus caballus). Kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangan Ugo pada 2005 masih menyisakan banyak catatan penting untuknya hingga hari ini. Sejak perpisahan itu pula ia terus mendalami hal-ihwal kuda untuk proyek-proyek seninya. Kuda dalam karya-karya Ugo adalah metafor tentang sejarah kebiadaban manusia, perang dan antroposentrisme yang menjadikan binatang makhluk subordinat manusia di muka bumi. Untuk patung-patung dan instalasinya Ugo hanya menggunakan kulit-kulit kuda yang ia dapatkan dari rumah jagal.

Human has to learn from animals: Just as Ugo Untoro finds his deep personal reflections on the values of love and affection, of life and death precisely through his close relationship with horses (Equus caballus). An accident that claimed the life of one of Ugo s beloved horses in 2005 has left important notes for him to this day. Since then, Ugo has continued exploring horse-related subjects in his artworks. Horse in Ugo s works is a metaphor of the history of human savagery, war and anthropocentrism that makes animals subordinate to human on earth. For his sculptures and installations, Ugo only uses horse skins that he obtained from slaughterhouses.

Light, Life, and Love no. 2

210 x 510 cm | petrified horse skins
2019


Konsep Karya
Manusia harus bisa belajar pada binatang: Seperti Ugo Untoro menemukan refleksi personalnya yang mendalam atas nilai-nilai cinta, kasih sayang, kehidupan dan kematian justru melalui kedekatannya dengan kuda (Equus caballus). Kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangan Ugo pada 2005 masih menyisakan banyak catatan penting untuknya hingga hari ini. Sejak perpisahan itu pula ia terus mendalami hal-ihwal kuda untuk proyek-proyek seninya. Kuda dalam karya-karya Ugo adalah metafor tentang sejarah kebiadaban manusia, perang dan antroposentrisme yang menjadikan binatang makhluk subordinat manusia di muka bumi. Untuk patung-patung dan instalasinya Ugo hanya menggunakan kulit-kulit kuda yang ia dapatkan dari rumah jagal.

Human has to learn from animals: Just as Ugo Untoro finds his deep personal reflections on the values of love and affection, of life and death precisely through his close relationship with horses (Equus caballus). An accident that claimed the life of one of Ugo s beloved horses in 2005 has left important notes for him to this day. Since then, Ugo has continued exploring horse-related subjects in his artworks. Horse in Ugo s works is a metaphor of the history of human savagery, war and anthropocentrism that makes animals subordinate to human on earth. For his sculptures and installations, Ugo only uses horse skins that he obtained from slaughterhouses.

Tentang Tak Ada Awal dan Akhir

330 x 150 cm | petrified horse skin, stainless steel
2019


Konsep Karya
Manusia harus bisa belajar pada binatang: Seperti Ugo Untoro menemukan refleksi personalnya yang mendalam atas nilai-nilai cinta, kasih sayang, kehidupan dan kematian justru melalui kedekatannya dengan kuda (Equus caballus). Kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangan Ugo pada 2005 masih menyisakan banyak catatan penting untuknya hingga hari ini. Sejak perpisahan itu pula ia terus mendalami hal-ihwal kuda untuk proyek-proyek seninya. Kuda dalam karya-karya Ugo adalah metafor tentang sejarah kebiadaban manusia, perang dan antroposentrisme yang menjadikan binatang makhluk subordinat manusia di muka bumi. Untuk patung-patung dan instalasinya Ugo hanya menggunakan kulit-kulit kuda yang ia dapatkan dari rumah jagal.

Human has to learn from animals: Just as Ugo Untoro finds his deep personal reflections on the values of love and affection, of life and death precisely through his close relationship with horses (Equus caballus). An accident that claimed the life of one of Ugo s beloved horses in 2005 has left important notes for him to this day. Since then, Ugo has continued exploring horse-related subjects in his artworks. Horse in Ugo s works is a metaphor of the history of human savagery, war and anthropocentrism that makes animals subordinate to human on earth. For his sculptures and installations, Ugo only uses horse skins that he obtained from slaughterhouses.