See You at ARTJOG MMXX, 23 July - 30 August 2020

Participating Artist






Riono Tanggul Nusantara (Tatang)


Born August, 17, 1984, Yogyakarta, Indonesia

EDUCATION
2003 – 2010
Painting, Bachelor of Art, Indonesia Institute of the Arts, Yogyakarta

SOLO EXHIBITION
2017
Back To The Future #5: Slow, Perfect, and Joy , Ace House, Yogyakarta, Indonesia

2015
Untitled , Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, Indonesia

SELECTED GROUP EXHIBITION (PARTICIPATING ARTIST)
2019
ARTJOG Common Space , Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
Showcase , Artotel, Jakarta, Indonesia

2018
Art Jakarta with Rachel Gallery , Ritz Carlton Ballroom, Pacific Place, Jakarta, Indonesia
After All These Years , Ace House, Yogyakarta, Indonesia

2015
Illusesia , Darmstadt, Germany

AWARDS
2003
Pratita Adikarya, Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, Indonesia


Irama Dengus

200 x 150 cm | soft pastel on black paper
2019


Konsep Karya
Riono Tanggul Nusantara (Tatang) dikenal dengan gambar-gambar figuratifnya yang berkarakter rinci dan halus. Secara umum, karya-karyanya banyak menyampaikan komentar-komentar personal tentang hubungan antar manusia yang penuh intrik dan pertarungan. Refleksi Tatang atas pengalaman pribadi sebagai seniman dan pengamatannya atas dunia sosial menjadi tema yang dominan dalam gambar-gambarnya yang penuh kiasan. Seri gambar Tatang kali ini menampilkan daging-daging binatang berkaki empat yang digantung dengan latar pepohonan dan hutan. Mereka seperti tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi dari para pemburunya, bahkan harus mati, dan lebih ironis lagi: dikuliti di habitatnya sendiri. Ini adalah suatu alegori tentang keserakahan yang memakan korban. Tatang menganggap ruang-ruang sosial manusia modern yang serba kompetitif telah menciptakan persaingan tanpa henti, termasuk untuk dirinya sendiri sebagai seniman. Medan seni yang seharusnya dapat memberikan ruang untuk kontemplasi malah turut menjadi bagian dari kontestasi.

Riono Tanggul Nusantara (Tatang) is known for his figurative images with detailed and refined characteristics. In general, many of his works convey personal comments about relationship between humans that are full of intrigue and battle. Tatang s reflection on personal experience and his observation of the social world became the dominant theme in his figurative images. Tatang s series of drawing displays four-legged animal flesh and meat hung in the background of trees and forests. They no longer seem to have any places to hide from the hunters, even have to die, and more ironically: skinned in their own habitat. This is an allegory about the human greed that claims victims. Tatang considers the competitive social space of modern man have created endless competition, including for himself as an artist. The field of art, which should provide space for contemplation has even become a part of the contestation.

Pementasan Yang Digagalkan Tema

110 x 80 cm each | soft pastel on blackpapper 8 panels
2019


Konsep Karya
Riono Tanggul Nusantara (Tatang) dikenal dengan gambar-gambar figuratifnya yang berkarakter rinci dan halus. Secara umum, karya-karyanya banyak menyampaikan komentar-komentar personal tentang hubungan antar manusia yang penuh intrik dan pertarungan. Refleksi Tatang atas pengalaman pribadi sebagai seniman dan pengamatannya atas dunia sosial menjadi tema yang dominan dalam gambar-gambarnya yang penuh kiasan. Seri gambar Tatang kali ini menampilkan daging-daging binatang berkaki empat yang digantung dengan latar pepohonan dan hutan. Mereka seperti tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi dari para pemburunya, bahkan harus mati, dan lebih ironis lagi: dikuliti di habitatnya sendiri. Ini adalah suatu alegori tentang keserakahan yang memakan korban. Tatang menganggap ruang-ruang sosial manusia modern yang serba kompetitif telah menciptakan persaingan tanpa henti, termasuk untuk dirinya sendiri sebagai seniman. Medan seni yang seharusnya dapat memberikan ruang untuk kontemplasi malah turut menjadi bagian dari kontestasi.

Riono Tanggul Nusantara (Tatang) is known for his figurative images with detailed and refined characteristics. In general, many of his works convey personal comments about relationship between humans that are full of intrigue and battle. Tatang s reflection on personal experience and his observation of the social world became the dominant theme in his figurative images. Tatang s series of drawing displays four-legged animal flesh and meat hung in the background of trees and forests. They no longer seem to have any places to hide from the hunters, even have to die, and more ironically: skinned in their own habitat. This is an allegory about the human greed that claims victims. Tatang considers the competitive social space of modern man have created endless competition, including for himself as an artist. The field of art, which should provide space for contemplation has even become a part of the contestation.

Tomorrow Never Knows What It Doesn t Know to Soon

200 x 150 cm | soft pastel on black paper
2019


Konsep Karya
Riono Tanggul Nusantara (Tatang) dikenal dengan gambar-gambar figuratifnya yang berkarakter rinci dan halus. Secara umum, karya-karyanya banyak menyampaikan komentar-komentar personal tentang hubungan antar manusia yang penuh intrik dan pertarungan. Refleksi Tatang atas pengalaman pribadi sebagai seniman dan pengamatannya atas dunia sosial menjadi tema yang dominan dalam gambar-gambarnya yang penuh kiasan. Seri gambar Tatang kali ini menampilkan daging-daging binatang berkaki empat yang digantung dengan latar pepohonan dan hutan. Mereka seperti tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi dari para pemburunya, bahkan harus mati, dan lebih ironis lagi: dikuliti di habitatnya sendiri. Ini adalah suatu alegori tentang keserakahan yang memakan korban. Tatang menganggap ruang-ruang sosial manusia modern yang serba kompetitif telah menciptakan persaingan tanpa henti, termasuk untuk dirinya sendiri sebagai seniman. Medan seni yang seharusnya dapat memberikan ruang untuk kontemplasi malah turut menjadi bagian dari kontestasi.

Riono Tanggul Nusantara (Tatang) is known for his figurative images with detailed and refined characteristics. In general, many of his works convey personal comments about relationship between humans that are full of intrigue and battle. Tatang s reflection on personal experience and his observation of the social world became the dominant theme in his figurative images. Tatang s series of drawing displays four-legged animal flesh and meat hung in the background of trees and forests. They no longer seem to have any places to hide from the hunters, even have to die, and more ironically: skinned in their own habitat. This is an allegory about the human greed that claims victims. Tatang considers the competitive social space of modern man have created endless competition, including for himself as an artist. The field of art, which should provide space for contemplation has even become a part of the contestation.