See You at ARTJOG MMXX, 23 July - 30 August 2020

Participating Artist






Nico Dharmajungen


Born 1948, Jakarta, Indonesia

I was born in 1948 in Jakarta Indonesia, but lived in West Germany since 1967. I learn the art of photography from Peter Busch 1969-1970 and studied at the Hamburger Foto Schule 1970-1971. From 1971-1977 I continued my education in fine arts and visual communication at the Grafik Schule Rolf Laute and Hochschule fur bildende Kunste in Hamburg.
From 1976-1980 I became assistant to the Photographer Alan Ginsburg. My career as a freelance photographer started in 1981.

Solo Exhibition :
2012
Body and Form Salihara, Jakarta, Indonesia
1998
I see, I feel, never die Cahya Gallery, Jakarta, Indonesia
1995
Arkeologi abad mesin Antara Gallery, Jakarta, Indonesia
1989
Heaven and Earth Olympus Gallery Hamburg, Germany



Collective exhibition:
2011
Beyond Photorgraphy Ciputra Artprenuers, Jakarta, Indonesia
2005
The Loved Ones Hotel Alila, Jakarta, Indonesia
2004
Move and Still Four Seasons Hotel, Jakarta, Indonesia
2002
Untitled QB Bookstore Jakarta, Indonesia
Collages of Images Oktagon Gallery Jakarta, Indonesia
Third Eye Duta Fine Art Gallery Jakarta, Indonesia
In-Contro Instituto Italiano di Cultura Jakarta, Indonesia
2000
Living with art I-Print, Cahya Gallery Jakarta, Indonesia
1998
Work of art Triadi P art, Hotel Mandarin Jakarta, Indonesia



As Fair Sweet and Tender

64 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
6/8
1998


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

Sentimental Gaze

80 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
2/8
1998


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

The Color of Millenium

80 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
3/8
2000


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

The Fair Light of Dawn

64 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
1/8
1990


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

Under a Spile of Pale Red

64 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
3/8
1998


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

Under Water

64 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
2/8
1991


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

Voices of Silence

64 cx 100 cm | Metal, print UV with white dbond
2/8
1997


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.

Wake Up

64 x 100 cm | Metal, print UV with white dbond
2/8
1990


Konsep Karya
Nico Dharmajungen Flores Vitae (Flower of Life) series 1990-2000 | UV print on metal dibond 9 panels, variable dimensions Nico Dharmajungen menggarap Flores Vitae selama sepuluh tahun (1990 - 2000) dan menghasilkan puluhan buah foto untuk seri ini. Tidak hanya menunjukkan kemampuan visualisasi dan teknis fotografinya yang tinggi, imaji-imaji ini juga merupakan tumpahan kisah hidup Nico. Berbeda dengan pengerjaan seri foto sebelumnya (Arkeologi Abad Besi dan America in Black & White, misalnya) untuk karya-karya ini, Nico melakukan eksplorasi untuk menemukan karakter personalnya, berupaya melepaskan teori-teori fotografi yang ia pernah dapatkan sebelumnya. Nico adalah fotografer senior Indonesia yang telah mendalami fine art photography sejak 1970-an, dan pernah belajar langsung pada sastrawan-fotografer Amerika Allen Ginsberg ketika tinggal di Jerman. Melalui eksplorasi atas anatomi, karakter warna dan komposisi tumbuh-tumbuhan, Nico menemukan dirinya yang romantis, melankolis dan kontemplatif. Tidak ada yang instan dan kebetulan dalam penciptaan imaji-imaji ini. Proses pra-produksi dimulai dari merancang latar, dan menentukan penempatan kamera secara serba terukur. Untuk seluruh seri ini, Nico menggunakan film large format (4 x 5 inci) dan 35mm dan mengaplikasikan teknik cross-processing untuk menghasilkan kontras yang tinggi dan warna-warna yang artifisial . Bunga-bunga ini bukan lagi objek-objek klise yang manis dan cantik. Mereka menjadi puitik, sensual, bergairah, lembut sekaligus abnormal, gelap dan sedih, layaknya kehidupan pembuatnya.

Nico Dharmajungen worked on the Flores Vitae for ten years (1990 - 2000) and produced dozens of photographs for this series. Not only displaying his masterful visual skills and photography technique, these images are also an expression of a life story of the maker. Unlike the previous work series (Archeology of the Iron Age and America in Black & White, for example), for these works Nico explored to find his personal character, trying to let go of all photography theories he had learned before. Nico is a senior Indonesian photographer who has worked in fine art photography since the 1970s, and studied under American poet-photographer Allen Ginsberg when living in Germany. Through an exploration of anatomies, color character and composition of different plants, Nico found his own romantic, melancholy and contemplative sides. There is no instant and coincidence in the creation of these images. The pre-production process started from designing the background, and determining the placement of cameras in a very measurable manner. For the entire series, Nico uses large format (4 x 5 inches) and 35mm films and applies cross-processing techniques to produce high contrast and artificial colors. These flowers are no longer sweet and beautiful cliché objects. They turn to be poetic, sensual, passionate, gentle, as well as pervert, dark and sad, like the life of the maker.