See You at ARTJOG MMXX, 23 July - 30 August 2020

Participating Artist






Lifepatch




Ornamental Script

| 4-channel hologram installation
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

Sword of Peace

| Customised swords
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

Tak Ada Awal Tak Ada Akhir (No Beginning, No End)

| two-channel video
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

The Stainless Priest

Diameter 400 cm | installation of ulos fabrics
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

Tribute to Boru Lopian

ratio 1:1 drawing size 400 x 150 cm | drawing of Mersitekka on the floor and one-channel video projection
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

xxxx

| Postcards
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

XXXXXX

105 cm x 500 m (4 pieces) | tie dye installation
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

XXXXXX

| single-channel documentary video
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

XXXXXX

| Installation of steampunk
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.

XXXXXX

105 cm x 500 m (4 pieces) | tie dye installation
2017


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari kisah berakhirnya perseteruan antara dinasti Sisingamangaraja dan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal sebagai Perang Batak (1878 - 1907). Dalam berbagai sejarah oral, gugurnya pahlawan nasional Indonesian Sisingamangaraja XII dalam perang tersebut tidak pernah terjelaskan, dan masih menjadi misteri hingga hari ini. Lifepatch melakukan riset lapangan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara (termasuk Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, dan Pangururan) untuk menggali kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat. Melalui proses kerja yang melibatkan banyak orang sebagai narasumber maupun kolaborator, Lifepatch menggarap proyek ini untuk menelisik kepemilikan sejarah ruang hidup dan komunitas yang pernah mengalami eksploitasi kolonial. Proyek ini tidak hanya bertujuan menampilkan berbagai narasi seputar kolonialisme Belanda di tanah Batak, tapi juga untuk mempertentangkannya satu sama lain. Alih-alih bermaksud untuk merangkum sejarah panjang kolonialisme di tanah Batak, apalagi menunjukkan versi mana yang paling tepat, Lifepatch hendak menyatakan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Proyek ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan narasi kolonialisme di tanah Batak yang sudah diterima umum dan/atau diproduksi oleh lembaga-lembaga mapan seperti museum.

This work developed from a story of the end of the conflict between Sisingamangaraja dynasty and the Dutch colonial government, known as the Batak War (1878-1907). In some oral histories, the death of the Indonesian national hero Sisingamangaraja XII s has never been clear, and remain a mystery up to this day. Lifepatch conducted a field research in various regions in North Sumatra (including Medan, Balige, Bakkara, Laguboti, Parlilitan, and Pangururan) to explore those narratives from local residents. Through a collaboration involving many people both as informant and collaborator, Lifpatche has worked on this project to explore the ownership of the history of living space and the communities that experienced colonial exploitation. This project is not only aimed at presenting various narratives surrounding Dutch colonialism in Batak land, but also to contrast them with each other. Instead of summarizing the long history of colonialism in Batak, let alone showing which version is most correct, Lifepatch would like to show that history is never single. Beyond that, this project, especially through the research processes on the narratives scattered and lived by the people in North Sumatra, can be seen as an attempt to question the colonialists versions of Batak that has been generally accepted and/or produced by established institutions like museums.