Participating Artist






Handiwirman Saputra




Taman Organik Oh Plastik

Variable dimensions | site-specific installation with variety of natural and artificial materials
2019


Konsep Karya
Handiwirman Saputra menggarap instalasinya dari gagasan dasar tentang membangun taman . Umumnya, sebuah taman dibuat untuk kebutuhan maupun kesenangan estetik manusia untuk menikmati kehidupan bersama alam. Hari-hari ini, terutama setelah gaya hidup hijau didengung-dengungkan sebagai penawar kerusakan ekologi akibat modernisasi dan industrialisasi, taman menjadi elemen yang penting, sekaligus simbol prestise, dalam pembangunan properti dan tata kota. Melalui instalasinya, Handiwirman secara kritis mempertanyakan estetika sebuah taman terutama ketika batasan yang alami dan yang artifisial begitu sulit untuk ditetapkan. Ia menganggap bahwa kesenangan kita pada taman justru mencerminkan obsesi manusia modern pada keartifisialan. Taman pada dasarnya hanyalah miniatur atau tiruan dari suatu habitat atau lanskap alam. Ketika menggarap Taman Organik Oh Plastik, alih-alih mengikuti norma-norma estetika alam yang baku, Handiwirman merekayasa metode-metode penggarapan taman secara ekstrim, menggabungkannya dengan cara-cara eksplorasi arkeologis. Ia menggali halaman depan Jogja National Museum, menyingkap dan mengekspos apa-apa yang semula terkubur di bawah permukaan tanah. Ia sengaja mengolah tamannya dengan material sintetik yang nampak alamiah, lalu menanam tumbuhan-tumbuhan yang justru terlihat artifisial. Hasilnya adalah sebuah instalasi khas-tapak yang membongkar dan merekonstruksi ruang dan makna-makna secara berlapis. Dalam prosesnya, memori Handiwirman tentang komplek lama Institut Seni Indonesia (ISI, atau ASRI, tempatnya berkuliah pada akhir 1990-an), juga ikut tergali dan terekonstruksi ke dalam ekosistem yang ia ciptakan.

Handiwirman Saputra creates his installation from the basic idea of building a garden . Generally, a garden is made for both human needs and aesthetic pleasures to enjoy living with nature. These days, especially after the green lifestyle is campaigned as an antidote to ecological damage due to modernization and industrialization, garden has become an increasingly important element, as well as symbol of social prestige, in property development and urban planning. Through his installation, Handiwirman critically questions the aesthetics of garden especially when the boundaries between what is natural and artificial are difficult to determine. He considers that the our pleasure of enjoying a garden actually reflects modern man s obsession towards artificiality. A garden is basically a mere miniature or imitation of natural habitat or landscape. When working on Taman Organik Oh Plastik, instead of following any standard norms of the aesthetics of nature , Handiwirman modifies methods in a garden cultivation to the extreme, combining them with an archaeological exploration. He excavated the front yard of the Jogja National Museum to reveal and expose what had originally been buried beneath the surface. He deliberately creates his garden with some synthetic materials that somehow look natural, aside from placing some living plants that look artificial. The result is a site-specific installation that unpacks and reconstruct the space and layers of meaning. Throughout the process, the artist s memories about the old complex of Indonesian Art Institute (ISI, or ASRI, where he studied in the late 1990s), were also retained, and eventually reconstructed into the ecosystem he creates.