See You at ARTJOG MMXX, 23 July - 30 August 2020

Participating Artist






SUNARYO


Born, Banyumas, Indonesia, 15 May 1943

EDUCATION
1962 - 1969
BFA, Bandung Institute of Technology (ITB), Bandung, Indonesia
1974 – 1975
Further study of Marble sculpting, Carrara, Italy


SOLO EXHIBITION
2018
Lawangkala , Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Indonesia
2017
Titik Awal: Cetak Grafis Sunaryo 1973-1989 , Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Indonesia
2014
Menengok Langkah: Sunaryo s Sculpture and Installation Exhibition 1977-2014 , Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Indonesia
Aestuarium , Equator Art Projects, Singapore
2012
Seamless Points; One Vision, Many Perspectives , Ciptadana Art Pogram and Exhibition, Jakarta, Indonesia


SELECTED GROUP EXHIBITION
2019
Poros Bandung , Galeri Salihara, Jakarta, Indonesia
Pameran Seni Rupa Nusantara KONTRAKSI: Pascatradisionalisme , Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia, Indonesia
2018
Banjir , Group Exhibition of Ikatan Alumni Seni Rupa (IASR) ITB, Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Indonesia
SSAS/AS/IDEAS , inaugural anniversary of 20th years of Selasar Sunaryo Art Space, Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Indonesia
EPOCH , ROH Projects, Jakarta, Indonesia
ART_UNLTD: XYZ , Gedung Gas Negara, Bandung, Indonesia
2017
SKALA: Trienal Seni Patung Indonesia #3 , National Gallery, Jakarta, Indonesia

SELECTED AWARDS
2005
Recipient of the Culture Heritage 18th Anniversary Award, Bandung
2017
Lifetime Achievement Award by Art Stage Jakarta, Jakarta
Recipient of Akademi Jakarta Award, Jakarta
Recipient of Chevalier dans l Ordre des Arts et Lettres from the French Ministry of Culture, Bandung
Lifetime Achievement Award by Jogja Biennale Foundation, Yogyakarta



Bubu Waktu

Variable dimensions | Site specific installation with bamboo, natural fibers, recycled papers, video projection and sound
2019


Konsep Karya
Karya Sunaryo, Bubu Waktu menunjukkan kepekaan khasnya dalam memproses bahan-bahan alami. Tidak hanya digunakan untuk menguatkan "kehadiran alam", bahan-bahan ini dipilih untuk menggambarkan gagasan-gagasan tentang kesementaraan: sebuah jalan masuk untuk berbicara tentang waktu dan ruang. Untuk pemasangannya, Sunaryo mengadopsi teknik, bahasa material dan bentuk-bentuk kerajinan benda Nusantara, yaitu bubu (perangkap ikan yang terbuat dari bilah bambu), lalu mentransformasikannya menjadi sebuah terowongan besar yang menempatkan kita, penonton, sebagai bagian yang inheren di dalamnya. Di dalam terowongan ini, kita bisa menjadi "objek yang terperangkap", terutama karena kita tidak menyadari simultanitas ruang dan waktu dengan kita. Tetapi ketika kita sadar bahwa waktu dan ruang adalah bagian inheren dari kesadaran manusia, terowongan ini kemudian menjadi latar belaka, atau tempat bagi berbagai tindakan yang menempatkan kita sebagai pemilik kehidupan kita sendiri. Dalam instalasi ini, Sunaryo juga menekankan potensi, pengerjaan material yang serba manual—melalui teknik menganyam, menjahit, menempel, dan mengikat—untuk menunjukkan hubungan-hubungan yang menubuh dan langsung antara manusia dan alam.

Sunaryo s Bubu Waktu testifies to the artist s distinctive sensibility in processing natural materials. Not only used to amplify “nature s presence”, these materials are chosen to illustrate ideas of ephemerality and mortality: an entry to talk about time and space. For his installation, Sunaryo adopts the archipelago s vernacular techniques and forms of object crafting, i.e. bubu (fish trap made of bamboo blades), transforming it to become a large tunnel that places us, the audience, as an inherent part of it. Inside this tunnel, we could be the “trapped objects”, particularly as we are oblivious of space and time s simultaneity with us. But when we are aware that time and space are inherent parts of human consciousness, this tunnel then becomes a mere backdrop or a setting for the myriads of actions that place us as the masters of our own lives. In this installation, Sunaryo also emphasizes the potential, ever-manual craftsmanship—through the techniques of weaving, plaiting, sewing, pasting and tying—to show the corporeal and immediate relations between nature and humans.

Sajadah Semesta (Mat of the Universe)

240 x 360 cm | acrylic, gesso, straw ropes and paper collages on canvas
2018


Konsep Karya
Untuk lukisan-lukisannya, Sunaryo menggunakan sapuan warna-warna yang lebar dan kolase sebagai elemen yang memperkuat gestur abstrak-lirisnya. Lukisan-lukisan ini lahir dari pengalaman spatio-temporal, yaitu saat-saat ketika Sunaryo berdiri di hadapan fenomena alam tertentu, seperti fajar dan cakrawala, atau ketika ia merasa sangat prihatin melihat sebuah bukit dieksploitasi secara sewenang-wenang. Hasilnya adalah ungkapan yang puitik, yang mencerminkan upayanya untuk menangkap ruang dan waktu yang tak terlihat dan tak tersentuh, namun dapat dirasakan.

For his paintings, Sunaryo uses large color strokes and collages as elements that amplify his lyrical-abstract gestures. These paintings are born of the artist s empirical spatio-temporal experience, i.e. moments when Sunaryo stands in the face of specific natural phenomena, such as the dawn and the horizon, or when he feels deeply concerned to see a hill being exploited arbitrarily. It results in a poetic expression, which at the same time reflect his extensive effort to capture and discern the unseen and untouched, yet sensed, space and time.

Sayatan di Punggung Bukit (Incision on the Ridge)

150 x 500 cm | acrylic and straw rope on canvas
2018


Konsep Karya
Untuk lukisan-lukisannya, Sunaryo menggunakan sapuan warna-warna yang lebar dan kolase sebagai elemen yang memperkuat gestur abstrak-lirisnya. Lukisan-lukisan ini lahir dari pengalaman spatio-temporal, yaitu saat-saat ketika Sunaryo berdiri di hadapan fenomena alam tertentu, seperti fajar dan cakrawala, atau ketika ia merasa sangat prihatin melihat sebuah bukit dieksploitasi secara sewenang-wenang. Hasilnya adalah ungkapan yang puitik, yang mencerminkan upayanya untuk menangkap ruang dan waktu yang tak terlihat dan tak tersentuh, namun dapat dirasakan.

For his paintings, Sunaryo uses large color strokes and collages as elements that amplify his lyrical-abstract gestures. These paintings are born of the artist s empirical spatio-temporal experience, i.e. moments when Sunaryo stands in the face of specific natural phenomena, such as the dawn and the horizon, or when he feels deeply concerned to see a hill being exploited arbitrarily. It results in a poetic expression, which at the same time reflect his extensive effort to capture and discern the unseen and untouched, yet sensed, space and time.