Participating Artist






Enka Komariah


Born January, 20 1993, Klaten, Central Java, Indonesia

SOLO EXHIBITION :
2017
Cebolang Minggat/The Escape of Cebolang 2017 , Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, Indonesia

EXHIBITION :
2019
ARTJOG Common Space , Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
One Decade One Street 10 Tahun SAK Tan Hana Dharma Mangrwa Gegerboyo , Redbase Yogyakarta, Indonesia

2018
Tribute To Maestro Rustamadji , Galeri Monju Klaten, Central Java, Indonesia
ARTUNLTD , Art Jakarta, Pacific Place, Jakarta, Indonesia
The Makers Art Jakarta, Pacific Place, Jakarta, Indonesia
Paperu FKY 30 , Piramid, Yogyakarta, Indonesia
Kembali ke Jalur Purworejo , Via-via Resto Yogyakarta, Indonesia
Keep The Fire on 4 , Survive Garage, Yogyakarta, Indonesia
Impian Indah Sang Juru Taman , MAS Masriadi Art Foundation Yogyakarta, Indonesia
Dialog Dua Anak Haram , Percetakan Ombak, Yogyakarta, Indonesia

2017
Klaten Biennale , GOR Klaten, Indonesia
Kios Kaos , Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, Indonesia
Paperu , Festival Kesenian Yogyakarta, Piramid, Yogyakarta, Indonesia
Im Your Fans, Juicy , Tour Exhibition Posters, Malang, Yogyakarta, Jakarta, Indonesia
Keep The fire On , Survive, Yogyakarta, Indonesia
Ace Mart 2017 , Ace House, Yogyakarta, Indonesia
Gedhang Godhog , GOR Klaten, Centra Java, Indonesia

2016
Ace Mart , Ace House Yogyakarta, Indonesia
JAMMIN IN THE NAME OF THE LORD , Masriadi Art Foundation, Yogyakarta, Indonesia
THE FIRE ON 2 , Survive Garage
kompilasi komik BERINGAS VOL I BARASUB PRESS DGTMB VERSUS PROJECT , Greenhost Yogyakarta, Indonesia

AWARD
Dies Natalis Printmaking Indonesian Art Institute 2014


juxtapose #1

150 x 200 cm | silkscreen and hand coloring on canvas
2019


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari pengamatan Enka Komariah terhadap perubahan-perubahan sosiokultural di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Di kota tersebut terdapat banyak mata air dan pohon beringin besar yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Perubahan ekologis yang signifikan terjadi ketika pembangunan masjid harus menghancurkan dan menimbun sebuah mata air. Salah satu alasannya adalah karena, dalam kepercayaan Islam, tempat yang dianggap keramat cenderung mendatangkan kesesatan. Pada masa sebelumnya, sebuah benteng Belanda yang merupakan peninggalan bersejarah di kota itu juga diruntuhkan dan diubah menjadi masjid. Dengan cara yang naratif, gambar-gambar Enka berusaha menunjukkan bagaimana perubahan ekologi dan transformasi makna sebuah ruang di Indonesia sangat ditentukan oleh tatanan kuasa yang dominan.

This series of work is based on Enka Komariah s observations of sociocultural changes in his hometown, Klaten, Central Java. In the city there are many springs that turns up becoming a pond and large banyan trees that are belief to be sacred by local people. A significant ecological change happened when a construction of mosque had to destroy and bury the spring. One of the reasons is that, in Islamic belief, a place that is considered sacred tend to be idolatrous and heretical. In an earlier period, a historical Dutch fort in the city was also demolished and turned into a mosque. In narrative manner, Enka s drawings attempts to portray how ecological changes and transformation of meaning of a space in Indonesia are very much determined by dominant power order.

juxtapose #2

150 x 200 cm | silkscreen and hand coloring on canvas
2019


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari pengamatan Enka Komariah terhadap perubahan-perubahan sosiokultural di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Di kota tersebut terdapat banyak mata air dan pohon beringin besar yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Perubahan ekologis yang signifikan terjadi ketika pembangunan masjid harus menghancurkan dan menimbun sebuah mata air. Salah satu alasannya adalah karena, dalam kepercayaan Islam, tempat yang dianggap keramat cenderung mendatangkan kesesatan. Pada masa sebelumnya, sebuah benteng Belanda yang merupakan peninggalan bersejarah di kota itu juga diruntuhkan dan diubah menjadi masjid. Dengan cara yang naratif, gambar-gambar Enka berusaha menunjukkan bagaimana perubahan ekologi dan transformasi makna sebuah ruang di Indonesia sangat ditentukan oleh tatanan kuasa yang dominan.

This series of work is based on Enka Komariah s observations of sociocultural changes in his hometown, Klaten, Central Java. In the city there are many springs that turns up becoming a pond and large banyan trees that are belief to be sacred by local people. A significant ecological change happened when a construction of mosque had to destroy and bury the spring. One of the reasons is that, in Islamic belief, a place that is considered sacred tend to be idolatrous and heretical. In an earlier period, a historical Dutch fort in the city was also demolished and turned into a mosque. In narrative manner, Enka s drawings attempts to portray how ecological changes and transformation of meaning of a space in Indonesia are very much determined by dominant power order.

juxtapose #3

150 x 200 cm | silkscreen and hand coloring on canvas
2019


Konsep Karya
Seri karya ini berangkat dari pengamatan Enka Komariah terhadap perubahan-perubahan sosiokultural di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Di kota tersebut terdapat banyak mata air dan pohon beringin besar yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Perubahan ekologis yang signifikan terjadi ketika pembangunan masjid harus menghancurkan dan menimbun sebuah mata air. Salah satu alasannya adalah karena, dalam kepercayaan Islam, tempat yang dianggap keramat cenderung mendatangkan kesesatan. Pada masa sebelumnya, sebuah benteng Belanda yang merupakan peninggalan bersejarah di kota itu juga diruntuhkan dan diubah menjadi masjid. Dengan cara yang naratif, gambar-gambar Enka berusaha menunjukkan bagaimana perubahan ekologi dan transformasi makna sebuah ruang di Indonesia sangat ditentukan oleh tatanan kuasa yang dominan.

This series of work is based on Enka Komariah s observations of sociocultural changes in his hometown, Klaten, Central Java. In the city there are many springs that turns up becoming a pond and large banyan trees that are belief to be sacred by local people. A significant ecological change happened when a construction of mosque had to destroy and bury the spring. One of the reasons is that, in Islamic belief, a place that is considered sacred tend to be idolatrous and heretical. In an earlier period, a historical Dutch fort in the city was also demolished and turned into a mosque. In narrative manner, Enka s drawings attempts to portray how ecological changes and transformation of meaning of a space in Indonesia are very much determined by dominant power order.