Zico Albaiquni

Born on 8 August 1987

Education
Graduated in 2011 Bachelor Degree, Faculty of Art and Design ITB,
Majoring in Painting,Institute Technology of Bandung.
Master Degree, Faculty of Art and Design ITB

Selected Solo Exhibitions
2015    
"Beyond The Veil" Suppan Contemporary, Vienna Austria

2014       
"SEKE" Platform3 Bandung

2013       
"Act I : Pollution"Concordia Platz, Vienna

Selected Group Exhibitions
2017       
"ART|JOG|10:Changing Perspective", Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
"Pameran Pra Biennale : Biennale Jogja XIV – Equator #4" Hall PKHH UGM, Jogjakarta, Indonesia
"Neon Age" Yavuz Gallery, Singapore
"Spiritualitas dalam seni rupa Indonesia" Lawangwangi Creative Space, Bandung

2016       
"DIVERSE"Suppan Contemporary, Vienna, Austria
"SEA+ SOUTH EAST ASIA TRIENNALE : Encounter "National Gallery Jakarta, Indonesia
"Close Encounter" Boston Gallery Philipines
"Art for Purposes" Museum Nasional Jakarta
“Dialogue Playground : Pong Pong Balong”Dia.Lo.Gue, Jakarta, Indonesia
“KUNST und UMWELT II”Goethe Institut Bandung

2015
"Shout! South East Asia Exhibition", Meat Market Stables, Melboune Australia
"Langkah Kepalang Dekolonialisasi : Agresi dan Negosiasi" Galeri Nasional, Jakarta
"ArtMoments" Jogja National Museum, Jogjakarta, Indonesia
"NOW: Here - There - Everywhere" Galeri Semarang, Semarang, Indonesia
"All the fancies & all the dreams that flutter through consciousness & lodge in thought, all the hopes & all the beliefs we ever hold, the highest theories like the lowest superstitions, all these elements of error & knowledge come to mind from experience” Lawangwangi, Bandung
"Reality Show" Galery Hidayat Bandung

2014       
"Melihat Indonesia" Ciputra Artpreneur Jakarta
"ŕeflexive transmission of  traditions … be associated with subject-centered reason & future-oriented historical consciousness¿™" Galeri Hidayat, Bandung
"Manifesto No.4 : Keseharian" Galeri Nasional Jakarta
"90an" Bale Tonggoh,Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
"KTCF2014" Tjipta NiagaJakarta

Awards
2015
Grandprix "Young Art Creator Awards" Tokyo Design Week, Tokyo, Japan

2012       
Finalist "Soemardja Awards 2012"
Finalist " Bandung Contemporary Art Awards"

Art Performances
2013      
"New Kids From the Schloss"Locative, Vienna

2012       
"Contemporary Art, Traditional Art, Education, Family" PurwaWiwitanDaksinaWekasan, SelasarSunaryo Art Space Bandung

2010       
"Platonic", Kampus Universitas Pendidikan Bandung
"Re-read, Re-draw“, Campus Centre ITB

2009       
"Koper", Bandung Indah Plaza

2008       
"Aw!Loh? Who? Akh! Bar!", Bandung

2007       
"Serius", Lapangan Campus Centre ITB

2006       
"Dialog Buih", JalanBraga Bandung

No Land Too Beauty (2)

96x143cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya.  


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands. 

No Water Too Sacred (2)

176x143 cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya.  


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands. 

No Man Too Worth For Sale (2)

96x143cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya.  


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands. 

No Water Too Sacred

150x110cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya.  


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands. 

No Land Too Beauty

120x150cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya. 


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands. 

No Man Too Worth For Sale

53x140cm | Oil, acrylic on canvas

2017

Concept

Karya ini diciptakan dari perjalanan yang saya tempuh di Ciwaruga, sebuah desa kecil di Bandung, di sana terdapat makam Sunda suci kuno. Situs tersebut masih digunakan oleh banyak orang berdoa dan bermeditasi untuk menemukan kunci keberuntungan dan kemakmuran mereka. Saya menggunakan mooi indie sebagai teks, yang merupakan ungkapan yang mengacu pada lukisan pemandangan yang digunakan untuk "mengiklankan" keindahan Indonesia di era koloni Belanda. Sebuah kredo yang saya berikan sebagai refleksi dari fatamorgana yang terjadi seiring proses proyek Pesona Bali yang sedang dijalankan pemerintah di sana. Bentuk yang saya pilih disini adalah apropriasi dari advertorial, yang saya komposisikan secara instalatif, yang digunakan warga untuk mengiklankan tanahnya.  


This piece of work is inspired by a journey I took in Ciwagura, a little village in Bandung, which still has a Sudanese ancient holy tomb. People still use that site to pray and meditate in order to find the key to their luck and prosperity. I use mooi indie as a text, it is a phrase to refer the painting of nature used to "promote" the beauty of Indonesia during Dutch Colonization era. It is the creed that I use as a reflection of mirage that occurs in the same time as Pesona Bali project running by the Government of that island. The form that I choose here is an appropriation of an advertorial, that I compose in installation way, used by local people to promote their lands.