Jabbar Muhammad

(muhammad jabbar dipanegara)

Born in Bandung, 11th October 1986

Lives and works in Bandung, West Java, Indonesia

 

EDUCATION

2004-2008 Bachelors of Fine Art, Painting Studio, Faculty of Fine Art and Design, Institute of Technology Bandung, Bandung, Indonesia.

2009-2012 Master of Fine Art, Faculty of Fine Art and Design, Institute of Technology Bandung, Bandung, Indonesia.

 

AWARDS

2015

Bandung Contemporary Art Awards #4, Lawangwangi Art Space, Bandung, Indonesia (Popular Votes).

UOB Painting of the Year 2015, Jakarta, Indonesia.

 

SELECTED SOLO EXHIBITIONS

2016

“Potret  Paralax”, iCAN, Yogyakarta, Indonesia

“Anima”, Salian Art Space, Bandung, Indonesia. (parallel exhibitions)

“Anima”, OMNIspace, Bandung, Indonesia. (parallel exhibitions)

 

SELECTED GROUP EXHIBITIONS

2017

“ART|JOG|10: Changing Perspective”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia

I too am untranslatable, Ruci Gallery, Jakarta, Indonesia.

 

2016

“SEA+ Trienalle 2016”, National Gallery, Jakarta, Indonesia.

“Bazaar Art Jakarta”, The Ritz Carlton Jakarta, Pacific Place, Indonesia.

“Pindai/Senarai”,  NuArt Sculpture Park, Bandung, Indonesia.

“Redraw II: Discovery”, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia.

“Art Fair Philippines”, Michael Jansen Gallery, Manila, Philippines.

 

2015

“Langkah Kepalang Dekolonialisasi”, National Gallery, Jakarta, Indonesia.

“Bandung Contemporary Art Award #4”, Lawangwangi Art Space, Bandung, Indonesia.

“The UOB Painting of the Year 2015”, Jakarta, Indonesia.

“Hello!”, Salian Art Space, Bandung, Indonesia.

“Material(ity)”, Hidayat Gallery, Bandung, Indonesia.

 

2014

“Hole in the Wall”, Ruci Gallery, Jakarta

Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto #4 “Keseharian: Mencandra Tanda-Tanda Masa, National Gallery, Jakarta, Indonesia.

“Melihat Indonesia”, Ciputra Gallery, Jakarta, Indonesia.

EVE 4.1. (Eve Project Series)

Diameter 190 cm | Acrylic on canvas

2016

Concept

Eve Project lahir berdasarkan kegelisahan saya mengenai identitas saya sebagai seniman dan sebagai manusia. Kurangnya keterkaitan antara identitas saya dalam lingkungan sosial dan diri saya sendiri sebagai seorang seniman memunculkan jarak antara saya dan karya saya. Oleh karena itu saya memunculkan sebuah pertanyaan mengenai "Siapakah saya dalam seluruh aktivitas (termasuk dalam proses pembuatan karya) yang saya jalani selama ini?" Saya mencari sebuah jawaban untuk menjembatani identitas saya sebagai seorang seniman dan sebagai orang melalui karya-karya yang akan saya buat.

"Eve" adalah nama yang saya pilih setelah pengalaman saya dalam beberapa interaksi dengan orang-orang asing dan kesamaannya dengan Teori Animus milik Carl Jung. Imaji seseorang bisa direfleksikan dari sosok lawan jenisnya. "Eve" berarti sebuah imaji yang memperspesikan sesuatu berdasarkan permukan atau berdasarkan tangkapan pandangan mata. Tegangan disebabkan oleh percakapan dengan lawan jenis menjadi momen yang menarik bagi saya.

Interpretasi saya terhadap perempuan asing yang sedang saya hadapi tidak mungkin diterjemahkan secara utuh dan gamblang. Selalu sebagian dan berubah. Definisi dibentuk oleh siapa, di mana, kapan dan kondisi yang terjadi di saat itu. Oleh karenanya, saya menyesuaikan multi interpretasi dari pengalaman inter-personal dengan memotretnya dalam sosok berlapis-lapis karena berbagai jenis perumpamaan yang mencul saat proses interaksi.

 

Eve Project was born and based on my anxiety towards my identity as an artist and myself as a person. The lack of connection between my identity in social sphere and myself as an artist created a gap between me and my artwork. Hence, I raised a question regarding “Who am I in within all my activities (including art making process) which I have been doing?”. I seek for an answer to bridge my identity as an artist and as a person through the art work that I’m going to make.

“Eve” named after my experience throughout several interactions with strangers and the similarity towards Carl Jung’s theory on Animus. Image of a person could be reflected on their opposite sex. “Eve” means an image that perceive based on the surface or based on what the eyes could seen. The tension created by a conversation with an opposite sex becomes an interesting moment for me.

My interpretation towards strange woman that I’m facing, can not be translated in full definition. It has always been partial and changes. The definition shaped by who, where, when, and what conditions that happened at that moment. Therefore, I adapt the multi-interpretations of intra-personal experience by portraying them in multi-layers figure because of various kinds of imagery that appear during the interaction process.

LIYAN

200 x 200 cm | Acrylic on canvas

2017

Concept

Eve Project lahir berdasarkan kegelisahan saya mengenai identitas saya sebagai seniman dan sebagai manusia. Kurangnya keterkaitan antara identitas saya dalam lingkungan sosial dan diri saya sendiri sebagai seorang seniman memunculkan jarak antara saya dan karya saya. Oleh karena itu saya memunculkan sebuah pertanyaan mengenai "Siapakah saya dalam seluruh aktivitas (termasuk dalam proses pembuatan karya) yang saya jalani selama ini?" Saya mencari sebuah jawaban untuk menjembatani identitas saya sebagai seorang seniman dan sebagai orang melalui karya-karya yang akan saya buat.

"Eve" adalah nama yang saya pilih setelah pengalaman saya dalam beberapa interaksi dengan orang-orang asing dan kesamaannya dengan Teori Animus milik Carl Jung. Imaji seseorang bisa direfleksikan dari sosok lawan jenisnya. "Eve" berarti sebuah imaji yang memperspesikan sesuatu berdasarkan permukan atau berdasarkan tangkapan pandangan mata. Tegangan disebabkan oleh percakapan dengan lawan jenis menjadi momen yang menarik bagi saya.

Interpretasi saya terhadap perempuan asing yang sedang saya hadapi tidak mungkin diterjemahkan secara utuh dan gamblang. Selalu sebagian dan berubah. Definisi dibentuk oleh siapa, di mana, kapan dan kondisi yang terjadi di saat itu. Oleh karenanya, saya menyesuaikan multi interpretasi dari pengalaman inter-personal dengan memotretnya dalam sosok berlapis-lapis karena berbagai jenis perumpamaan yang mencul saat proses interaksi.

 

Eve Project was born and based on my anxiety towards my identity as an artist and myself as a person. The lack of connection between my identity in social sphere and myself as an artist created a gap between me and my artwork. Hence, I raised a question regarding “Who am I in within all my activities (including art making process) which I have been doing?”. I seek for an answer to bridge my identity as an artist and as a person through the art work that I’m going to make. 

“Eve” named after my experience throughout several interactions with strangers and the similarity towards Carl Jung’s theory on Animus. Image of a person could be reflected on their opposite sex. “Eve” means an image that perceive based on the surface or based on what the eyes could seen. The tension created by a conversation with an opposite sex becomes an interesting moment for me.

My interpretation towards strange woman that I’m facing, can not be translated in full definition. It has always been partial and changes. The definition shaped by who, where, when, and what conditions that happened at that moment. Therefore, I adapt the multi-interpretations of intra-personal experience by portraying them in multi-layers figure because of various kinds of imagery that appear during the interaction process.