J. Ariadhitya Pramuhendra

Born August 13th 1984 , Semarang – Indonesia

Education

BFA, Printmaking Major, Art Dept. Bandung Institute of Technology, Bandung 2007


Awards

Winner. “Artist of the year 2011 under 30 year old, Soemardja Art Award,

Bandung Institute of Technology, Bandung, Indonesia

Honorable Mention, Drawing Award, The 12th International Biennale Print and Drawing Exhibition 2006, National Taiwan Museum of Fine Arts


Selected Solo Exhibitions

2013

“Vox Clamantis in Deserto”, Equator Art Project, Singapore


2012

“Religion of Science”, Galerie Perrotin, Hong Kong


2011

“Silent Confession”, Michael Ku Gallery, Taipei

 

Selected Group Exhibitions

2017

"ART|JOG|10:Changing Perspective", Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia

“Art Basel” , Hong Kong

 

2015 

“Canna Gallery birthday exhibition” Galeri Canna, Jakarta, Indonesia

“J. Ariadhitya Pramuhendra & Yi Hong – JIAN” Michalel Ku Gallery, Taipei, Taiwan

“GRAY WOULD BE THE COLOR, IF I HAD A HEART” Marc Strauss Gallery, NYC. USA

“Group Exhibition with Canna Gallery” Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia


2014 

“To Communicate in Art Making Today” Edwin’s Gallery , Jakarta, Indonesia

“Art Taipei” Michael Ku Gallery, Taipei

“Melihat Indonesia” Ciputra Artpreneur , Jakarta, Indonesia

“Today and Tomorrow Indonesian Contemporary Art” Yallay Gallery, Hongkong

“Rimowa x The Goods Dept Exhibition & Charity Auction” Jakarta, Indonesia

“Fund Raising Exhibition” Platform3, Bandung, Indonesia

Holy Lamb

200 x 200 cm | Resin on lamb skin

2016

Concept

J. Ariadhitya Pramuhendra’s Lambskin series began two years ago, continuing the dialogue of religious symbolism that spans his body of work. This two-part series, adapts a pseudo-scientific approach to analyze the lamb, a strong symbol in the Roman Catholic Church, representing God, Jesus and ourselves. Pramuhendra’s nearly abstracted charcoal drawings study small details of the lambskin as he searches for signs of something more spiritual or essential. Whereas his haunting, minimalist lamb skin preserved in resin expresses the secular method in which our civilization groups humanity into tribes, nationality, and race. 

His work has most often been defined by his photo-realist self portrait as the central figure, probing his own faith and the existence of God. The absence of his visual representation in this series does not indicate a separation of the artist from the work. In fact, the social and religious scrutiny are introspective, as the lamb is not only a symbol of god but of Pramuhendra, himself.

  

Seri Lambskin ini dimulai dari dua tahun silam, melanjutkan dialog simbolisme relijius yang ada di karya-karyanya. Seri yang terdiri dari dua bagian ini mengadaptasi sebuah pendekatan pseudo-scientific (ilmiah-semu) untuk menganalisa sosok anak domba, sebuah simbol yang kuat dalam Gereja Katolik Roma, yang melambangkan Tuhan, Yesus dan diri kita. Gambar-gambar arang Pramuhendra yang mendekati gaya abstrak ini mempelajari detil-detil kecil dari kulit domba sebagai usahanya untuk mencari tanda-tanda sesuatu yang lebih spiritual dan esensial. Sementara kulit domba minimalis yang diawetkan dengan resin menyatakan metode sekuler yang digunakan oleh peradaban kita untuk mengelompokkan manusia ke dalam suku, kebangsaan, dan ras.

Karya-karyanya sering menampilkan potret dirinya menggunakan gaya foto-realis sebagai sosok utama, mempertanyakan kepercayaannya sendiri dan keberadaan Tuhan. Ketidakhadiran representasi visual tersebut dalam seri ini bukan berarti menunjukkan adanya keterpisahan seniman dari karyanya. Sebenarnya pengawasan sosial dan agama bersifat introspektif, karena anak domba bukan hanya simbol tuhan, tapi juga simbol bagi Pramuhendra sendiri.

Holy Lamb

12 pieces, each 20 x 30 cm | Resin on lamb skin

2017

Concept

J. Ariadhitya Pramuhendra’s Lambskin series began two years ago, continuing the dialogue of religious symbolism that spans his body of work. This two-part series, adapts a pseudo-scientific approach to analyze the lamb, a strong symbol in the Roman Catholic Church, representing God, Jesus and ourselves. Pramuhendra’s nearly abstracted charcoal drawings study small details of the lambskin as he searches for signs of something more spiritual or essential. Whereas his haunting, minimalist lamb skin preserved in resin expresses the secular method in which our civilization groups humanity into tribes, nationality, and race. 

His work has most often been defined by his photo-realist self portrait as the central figure, probing his own faith and the existence of God. The absence of his visual representation in this series does not indicate a separation of the artist from the work. In fact, the social and religious scrutiny are introspective, as the lamb is not only a symbol of god but of Pramuhendra, himself.

  

Seri Lambskin ini dimulai dari dua tahun silam, melanjutkan dialog simbolisme relijius yang ada di karya-karyanya. Seri yang terdiri dari dua bagian ini mengadaptasi sebuah pendekatan pseudo-scientific (ilmiah-semu) untuk menganalisa sosok anak domba, sebuah simbol yang kuat dalam Gereja Katolik Roma, yang melambangkan Tuhan, Yesus dan diri kita. Gambar-gambar arang Pramuhendra yang mendekati gaya abstrak ini mempelajari detil-detil kecil dari kulit domba sebagai usahanya untuk mencari tanda-tanda sesuatu yang lebih spiritual dan esensial. Sementara kulit domba minimalis yang diawetkan dengan resin menyatakan metode sekuler yang digunakan oleh peradaban kita untuk mengelompokkan manusia ke dalam suku, kebangsaan, dan ras.

Karya-karyanya sering menampilkan potret dirinya menggunakan gaya foto-realis sebagai sosok utama, mempertanyakan kepercayaannya sendiri dan keberadaan Tuhan. Ketidakhadiran representasi visual tersebut dalam seri ini bukan berarti menunjukkan adanya keterpisahan seniman dari karyanya. Sebenarnya pengawasan sosial dan agama bersifat introspektif, karena anak domba bukan hanya simbol tuhan, tapi juga simbol bagi Pramuhendra sendiri.

St. Martin

250 x 200 cm | Charcoal on canvas

2017

Concept

J. Ariadhitya Pramuhendra’s Lambskin series began two years ago, continuing the dialogue of religious symbolism that spans his body of work. This two-part series, adapts a pseudo-scientific approach to analyze the lamb, a strong symbol in the Roman Catholic Church, representing God, Jesus and ourselves. Pramuhendra’s nearly abstracted charcoal drawings study small details of the lambskin as he searches for signs of something more spiritual or essential. Whereas his haunting, minimalist lamb skin preserved in resin expresses the secular method in which our civilization groups humanity into tribes, nationality, and race. 

His work has most often been defined by his photo-realist self portrait as the central figure, probing his own faith and the existence of God. The absence of his visual representation in this series does not indicate a separation of the artist from the work. In fact, the social and religious scrutiny are introspective, as the lamb is not only a symbol of god but of Pramuhendra, himself.

  

Seri Lambskin ini dimulai dari dua tahun silam, melanjutkan dialog simbolisme relijius yang ada di karya-karyanya. Seri yang terdiri dari dua bagian ini mengadaptasi sebuah pendekatan pseudo-scientific (ilmiah-semu) untuk menganalisa sosok anak domba, sebuah simbol yang kuat dalam Gereja Katolik Roma, yang melambangkan Tuhan, Yesus dan diri kita. Gambar-gambar arang Pramuhendra yang mendekati gaya abstrak ini mempelajari detil-detil kecil dari kulit domba sebagai usahanya untuk mencari tanda-tanda sesuatu yang lebih spiritual dan esensial. Sementara kulit domba minimalis yang diawetkan dengan resin menyatakan metode sekuler yang digunakan oleh peradaban kita untuk mengelompokkan manusia ke dalam suku, kebangsaan, dan ras.

Karya-karyanya sering menampilkan potret dirinya menggunakan gaya foto-realis sebagai sosok utama, mempertanyakan kepercayaannya sendiri dan keberadaan Tuhan. Ketidakhadiran representasi visual tersebut dalam seri ini bukan berarti menunjukkan adanya keterpisahan seniman dari karyanya. Sebenarnya pengawasan sosial dan agama bersifat introspektif, karena anak domba bukan hanya simbol tuhan, tapi juga simbol bagi Pramuhendra sendiri.