Eko Nugroho


Born July 4, 1977, Yogyakarta, Indonesia

Education 
1997 - 2006 
Painting, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta, Indonesia

Selected Solo Exhibitions
2018
“Plastic Democracy”, A3, Berlin, Germany
2017
“Semelah”, Asia Society (Commission Project), New York, USA
2016
“Uh-Oh Uh-Oh Uh-Oh (The World Complaining)”, Arario Gallery, Shanghai, China
“Lot Lost”, Curated by Lisa Catt, Art Gallery of New South Wales, Sydney, Australia

Selected Group Exhibitions
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“Art From The Streets”, Art Science Museum, Singapore
2017
"Material Connection", Jane Lombard Gallery, New York, USA
“Instant Replay: ARNDT Singapore's Highlights from Southeast Asia", ARNDT, Singapore
“Middle of Now Here” Honolulu Biennial, Honolulu, Hawaii
“Imaginarium: To The Ends of The Earth”, Singapore Art Museum, Singapore
“Luther and The Avantgarde”, Contemporary Art In Wittenberg, Berlin, and Kassel Wittenberg Old Prison, Germany
“Suzu 2017: Oku-Noto Triennale”, Suzu-shi, Ishikawa, Japan
“Trienal Seni Patung Indonesia #3: Skala”, National Gallery, Jakarta, Indonesia
2016 
“Love Me in My Batik: Modern Batik Art From Malaysia and Beyond”, Ilham 
Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia
“ARTJOG Universal Influence”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“Concept Context Contestation: Art and The Collective In Southeast Asia", Cemeti Art House, Yogyakarta, Indonesia

Performance
2017
“SEMELAH (GOD BLISS)” Collaboration with Gunawan Maryanto (writer, director, actor), Catur 
“Benyek” Kuncoro (Puppeter), Ari Wulu (Musician), Banjar Tri Andaru Cahyo (Lighting), Octo 
Cornelius, Anggit Sudibyo (Stage crew) Ratri Kartika Sari, Kusworo Bayu Aji, Wiwit Endri 
Nuryaningsih (Management), M Arif Wijayanto (Actor), Attinna Rizqiana (Custom). USA Tour: 
Asia Society, New York; Carolina Performing Arts, North Carolina; Calart Theater, Los Angeles. 
Commissioned by Asia Society.
“SEMELAH (GOD BLISS)” Collaboration with Gunawan Maryanto (writer, director, actor), 
Triyanto “Genthong” Hapsoro, Jagad Mellian Tejo Ndaru (Puppeter), Ari Wulu (Musician), 
Banjar Tri Andaru Cahyo (Lighting), Octo Cornelius, Anggit Sudibyo (Stage crew) Ratri Kartika 
Sari, Kusworo Bayu Aji, Wiwit Endri Nuryaningsih (Management), M Arif Wijayanto (Actor), 
Attinna Rizqiana (Custom). Tour in Societet Militer-Jogjakarta, Idrus Tintin, Komplek Bandar 
Seni Raja Ali-Riau, At America-Jakarta & Taman Ismail Marzuki-Jakarta. 
2016
“SEMELAH (GOD BLISS)” Collaboration with Gunawan Maryanto (writer, director, actor), Catur 
“Benyek” Kuncoro (Puppeter), Ari Wulu (Musician), Banjar Tri Andaru Cahyo (Lighting), Octo 
Cornelius, Anggit Sudibyo (Stage crew) Ratri Kartika Sari, Kusworo Bayu Aji, Wiwit Endri 
Nuryaningsih (Management), M Arif Wijayanto (Actor), Theresia Wulandari (Actress), Attinna 
Rizqiana (Custom) at Institut Francais Indonesia / Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta
“Hikayat Agar-agar Bertanduk” Collaboration with Gunawan Maryanto (writer & director), Ari 
Wulu (Musician), Banjar Tri Andaru Cahyo (Lighting), Octo Cornelius, Anggit Sudibyo (Stage 
crew) Ratri Kartika Sari, Kusworo Bayu Aji, Leoni Dian A. (Management), M Arif Wijayanto
(Actor), Theresia Wulandari (Actress) at Potatohead, Bali, Indonesia.
2015
“DIMISCALL LELUHUR”, Collaboration with Gunawan Maryanto (writer), Ari Wulu (Musician), 
Banjar Tri Andaru Cahyo (Lighting), Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto (Stage crew) Kusworo 
Bayu Aji, Wiwit Endri Nuryaningsih (Management), Ant. Febrinawan Prestianto (Actor), 
Theresia Wulandari (Actress) tour in 4 villages in Bantul, Kulonprogo, Sleman, Gunung Kidul
“Dimiscall Leluhur”, Collaboration with Gunawan Maryanto (writer), Ari Wulu (Musician), Banjar 
Tri Andaru Cahyo (Lighting), Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto (Stage crew) Kusworo Bayu Aji, 
Wiwit Endri Nuryaningsih (Management), Ant. Febrinawan Prestianto (Actor), Theresia 
Wulandari (Actress) at Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Awards
2017  
Indonesia’s Influential Person in Creative Industry -- Visual Art by Idea Fest x Samsung 
Galaxy Note 8
2013  
Power 100 A ranked list of the contemporary artworld's most powerful figures by ArtReview
Icon of the Year 2013 in Art and Culture, Gatra Magazine, Indonesia

Artist Residencies
2017
Shangri La Center for Islamic Art, Culture & Design, Honolulu, Hawaii
2012
Singapore Tyler Print Institute, Singapore
2011
ZKM Center for Art and Media in Karlsruhe, Germany
SAM Art Projects, Villa Raffet in Paris, France




Ancient Mentality

70 x 50 x 74 cm | Fiberglass, spraypaint, teakwood, plastic, iron
2016


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastic yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.





Carnival Trap #1

208 x 120 x 130 cm | Upcycled plastics, acrylic, resin, wire
2018


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.




Carnival Trap #2

200 x 110 x 200 cm | Resin, wire, upcycled, plastics, iron, acrylic paint
2018


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.




Colosal Trap Solidarity Trap

290x93x63cm | Iron, Lamp, Plastic
2018


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.




Demokrasi

400x30x290 | Batix, Wax, Painting on Fabric, Bamboo, Shoes
2015-2018


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.




Garden Full of Blooming Democracy 6

180x140cm | Acrylic on Canvas
2017


Konsep Karya





Nasionalisme

400x114x83cm | Batix, Wax Painting on Fabric, Fiberglass Painting with duco
2015-2018


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.




Respect to be Respected

266 x 159 cm | manual emboidery
2017


Konsep Karya

This particular work highlights the phenomenon in the society, celebrating democracy which sometimes seems a little bit over the top, causing anarchy all over the place. Such euphoria is based on collective togetherness built upon solidarity. The hurly-burly of such euphoria is felt like a festive carnival. A carnival must be festive, the uproar draws people in to join celebrating, regardless of its true intention.

A carnival could be used by anybody. It sometimes could be quite political. This could be such a deceiving trap, used by the powerful ones  to realize their political dreams and plans. Such dreams and plans might disarrange the society.

This work is  made of plastic debris collected by waste collectors in Jogja. To make use of the characteristic of its medium, we may double up its value and present this work in the gallery.  

Karya ini menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euphoria demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki dimana-mana. Euphoria didasari oleh semacam bentuk kebersamaan kolektif yang dasarnya adalah solidaritas. Hiruk pikuk sebagaimana euphoria ini seperti halnya sebuah karnaval. Dalam karnaval tentunya terjadi kemeriahan, hiruk pikuk yang mengundang masyarakat untuk ikut merayakannya, terlepas dari tujuan asli dari karnaval tersebut.

Karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak, bahkan bisa menjadikan ini sesuatu yang sangat politis, dan hal ini adalah jebakan yang sangat cantik, jebakan yang dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi politisnya, mimpi-mimpi strategisnya, mimpi-mimpi kekuatan-kekuatan besar itu yang sebenarnya bisa mengacaukan masyarakat.

Karya ini dibuat dari kumpulan sampah plastik yang dikumpulkan dari pengepul jogja. Melalui kekuatan mediumnya, kita dapat melipat gandakan nilai dari materialnya dan dihadirkan di ruang pamer.