RM Soni Irawan


Born January 15, 1975, Yogyakarta, Indonesia

Education
Visual Art Faculty, Fine Art Department, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta, Indonesia

Selected Solo Exhibitions
2017
“Nothing Perfect Noise”, D Gallerie, Jakarta, Indonesia
“From Zero To Zorro”, Wallworks Gallerie, Paris, France
2015
“Psychedelic Jungle”, Lasaai, Phnom Penh, Cambodia
2012
“Mellow Yellow”, Kendra Gallery, Bali, Indonesia

Selected Group Exhibition
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
2017
“Estrellas”, Art Serpong, Jakarta, Indonesia
“Art Stage Jakarta”, Sheraton Hotel, Jakarta, Indonesia
“Off The Wall”, Allcaps Gallery, Gandaria City, Jakarta, Indonesia
“Pekan Seni Grafis Yogyakarta”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“ARTJOG Changing Perspective”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“Bright Side”, Natan Art Space, Yogyakarta, Indonesia 
“Faces of Life”, Artsphere, Artotel, Jakarta, Indonesia
“Art Stage Singapore”, Marina Bay Sands, Singapore
2016
“Duplex”, Natan Art Space, Yogyakarta, Indonesia
“Bazaar Art Fair”, Ritz Carlton Ballroom, Jakarta, Indonesia
“Off The Wall”, D Gallery, Jakarta, Indonesia
“ARTJOG Universal Influence”, Yogyakarta, Indonesia
2015
“Commision Work”, Jackman Gallery, Melbourne, Australia
“Galactic Highway”, Vallette Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia
“Bazaar Art Fair”, Ritz Carlton Ballroom, Jakarta, Indonesia 
"Polychromatics", Green Host, Yogyakarta, Indonesia
“Yogyakarta Open Studio (YOS)”, Grafis Minggiran, Yogyakarta, Indonesia
“Villette Street Festival”, Parc De La Villette, Paris, France
“Disinterested”, Phillo Art Space, Jakarta, Indonesia

Awards
2001
Finalist, Phillip Morris ASEAN Art Award 
Best Five, Phillip Morris Indonesian Art Award
1998
Best Graphic, “RefleksiZaman”




Happy Noise Terror

240 x 540cm (triptych) | Acrylic, paint marker, spray paint on canvas
2018


Konsep Karya
In this series, the figure of Zorro is present to represent a new form of presentation. Zorro has become an icon that needs to be preserved and found to represent the personification that people need these days. The title of this series adapts my other practice background, a musician that is. And, again, if we live and are aware of our environment in Indonesia, we should have realized how the noise is present and getting louder lately. This piece is an appropriation of form toward our concern in the realm of social, politic, economic and art which hopefully can become a bright spot in our landscape of life. Zorro can become a figure who enlightens and colors the noise of our nation life nowadays.  


Pada seri ini, figur Zorro kembali dihadirkan untuk menghadirkan bentuk presentasi baru. Zorro menjadi ikon yang dipertahankan dan ditemukan untuk mewakili personifikasi yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Tajuk dari serial ini mengadaptasi dari latar praksis saya yang lain sebagai seorang musisi. Dan kembali jika kita yang berada dan menyadari lingkungan kita di Indonesia, kita dapat melihat kebisingan itu hadir dan makin nyaring belakangan ini. Karya ini menjadi apropriasi bentuk terhadap kepedulian kita terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi dan seni yang diharapkan menjadi titik terang dalam lanskap kehidupan. Zorro dapat menjadi tokoh yang mencerahkan dan mewarnai kebisingan kehidupan berbangsa kita di hari ini.

Lust For Life #2

d. 120 cm | acrylic, solid marker, paint marker
2018


Konsep Karya
In this series, the figure of Zorro is present to represent a new form of presentation. Zorro has become an icon that needs to be preserved and found to represent the personification that people need these days. The title of this series adapts my other practice background, a musician that is. And, again, if we live and are aware of our environment in Indonesia, we should have realized how the noise is present and getting louder lately. This piece is an appropriation of form toward our concern in the realm of social, politic, economic and art which hopefully can become a bright spot in our landscape of life. Zorro can become a figure who enlightens and colors the noise of our nation life nowadays.  


Pada seri ini, figur Zorro kembali dihadirkan untuk menghadirkan bentuk presentasi baru. Zorro menjadi ikon yang dipertahankan dan ditemukan untuk mewakili personifikasi yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Tajuk dari serial ini mengadaptasi dari latar praksis saya yang lain sebagai seorang musisi. Dan kembali jika kita yang berada dan menyadari lingkungan kita di Indonesia, kita dapat melihat kebisingan itu hadir dan makin nyaring belakangan ini. Karya ini menjadi apropriasi bentuk terhadap kepedulian kita terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi dan seni yang diharapkan menjadi titik terang dalam lanskap kehidupan. Zorro dapat menjadi tokoh yang mencerahkan dan mewarnai kebisingan kehidupan berbangsa kita di hari ini.

Screaming Field Of Sonic Love

150 x 450 cm (triptych) | Acrylic, Paint marker, Spray Paint on canvas
2018


Konsep Karya
In this series, the figure of Zorro is present to represent a new form of presentation. Zorro has become an icon that needs to be preserved and found to represent the personification that people need these days. The title of this series adapts my other practice background, a musician that is. And, again, if we live and are aware of our environment in Indonesia, we should have realized how the noise is present and getting louder lately. This piece is an appropriation of form toward our concern in the realm of social, politic, economic and art which hopefully can become a bright spot in our landscape of life. Zorro can become a figure who enlightens and colors the noise of our nation life nowadays.  


Pada seri ini, figur Zorro kembali dihadirkan untuk menghadirkan bentuk presentasi baru. Zorro menjadi ikon yang dipertahankan dan ditemukan untuk mewakili personifikasi yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Tajuk dari serial ini mengadaptasi dari latar praksis saya yang lain sebagai seorang musisi. Dan kembali jika kita yang berada dan menyadari lingkungan kita di Indonesia, kita dapat melihat kebisingan itu hadir dan makin nyaring belakangan ini. Karya ini menjadi apropriasi bentuk terhadap kepedulian kita terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi dan seni yang diharapkan menjadi titik terang dalam lanskap kehidupan. Zorro dapat menjadi tokoh yang mencerahkan dan mewarnai kebisingan kehidupan berbangsa kita di hari ini.

Waiting In The Sky

240 x 420 cm (triptych) | Acrylic, Paint marker, Spray Paint on canvas
2018


Konsep Karya
In this series, the figure of Zorro is present to represent a new form of presentation. Zorro has become an icon that needs to be preserved and found to represent the personification that people need these days. The title of this series adapts my other practice background, a musician that is. And, again, if we live and are aware of our environment in Indonesia, we should have realized how the noise is present and getting louder lately. This piece is an appropriation of form toward our concern in the realm of social, politic, economic and art which hopefully can become a bright spot in our landscape of life. Zorro can become a figure who enlightens and colors the noise of our nation life nowadays.  


Pada seri ini, figur Zorro kembali dihadirkan untuk menghadirkan bentuk presentasi baru. Zorro menjadi ikon yang dipertahankan dan ditemukan untuk mewakili personifikasi yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Tajuk dari serial ini mengadaptasi dari latar praksis saya yang lain sebagai seorang musisi. Dan kembali jika kita yang berada dan menyadari lingkungan kita di Indonesia, kita dapat melihat kebisingan itu hadir dan makin nyaring belakangan ini. Karya ini menjadi apropriasi bentuk terhadap kepedulian kita terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi dan seni yang diharapkan menjadi titik terang dalam lanskap kehidupan. Zorro dapat menjadi tokoh yang mencerahkan dan mewarnai kebisingan kehidupan berbangsa kita di hari ini.