Malcolm Smith


Education
Science of Cultural Religion, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia
Communications, University of Technology Sydney, Sydney, Australia

Selected Solo Exhibitions
2014
“Modern Times”, Newsagency Gallery, Sydney, Australia
2013
“Greetings from Silverside”, Newsagency Gallery, Sydney, Australia
2012
“Ships Passing in the Night”, Lir Space, Yogyakarta, Australia

Selected Group Exhibitions
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
2017
“Carte Blanche: Anxiety”, Mizuma Gallery, Singapore
2016
“Out of Joint”, Dia.Lo.Gue Art Space, Jakarta, Indonesia
2015
“ARTJOG Infinity in Flux”, Taman Budaya Yogyakarta, Indonesia

Selected Workshops and presentations
Obat Kuat: Modern Masculinities in Indonesian advertising, 1910 – 2015, Inter Asia Cultural Studies Conference, Universitas Airlangga, Surabaya, August 2015
New Strategies of Artist Initiative/Community Spaces, IVAA-ARTJOG Forum, 8 June 2014, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta
The Paper Trail (Presented by ANU School of Art and Krack Studio), September 2013, Indonesian Visual Art Archive, Yogyakarta



The dream of equality, the achievement of standartization, the regulation of normality and the perverse pleasure of difference

50 cm x 50 cm (75 panels) | Screenprint on Canson Moulin du Roy
1/2
2018


Konsep Karya
I have lived in a perumahan in Jogja for seven years. When it was built in 1986, all of the houses were the same, but today almost all of them are different. Perumahans were first built in Indonesia around the time of Independence. By standardizing construction, more homes could be built at a cheaper cost, but also the dream of equality could be realized; the perumahan signified a utopian “classless society” where all the houses and all the people who lived in them were equal (in theory). By the 1970s, the perumahan was no longer seen as a utopian ideal, but as the place where “normal” Indonesian families lived; or rather the stereotype of normality endorsed by institutions like Keluarga Berencana and the Orde Baru. In the 1990s, people started to resent this rigid enforcement of normality. Consumers realized that they earned the admiration of their peers not by how they conformed to these limits, but by how they transgressed them. Today almost all the houses in my perumahan have been individualized; repainted, remodeled, second storey added. In the 2000s, “Rumah Spanyol” conversions were popular, but more recently the “Rumah Minimalis” seems to be the trend.  Living in my perumahan requires negotiating these contradictory layers of meaning.


Saya sudah tinggal di sebuah perumahan di Jogja selama tujuh tahun. Ketika perumahan pertama kali dibangun pada tahun 1986, semua rumah dibuat sama, tapi sekarang hampir semuanya berbeda. Perumahan-perumahan pertama kali dibangun di Indonesia pada masa kemerdekaan. Dengan menetapkan standar konstruksi, semakin banyak rumah yang dapat dibangun dengan biaya yang lebih murah, selain itu harapan akan kesetaraan dapat diwujudkan; perumahan menandakan “masyarakat tanpa kelas sosial” yang utopis di mana dianggap semua rumah dan orang-orang yang tinggal di dalamnya setara (secara teori). Sampai tahun 1970-an, perumahan tidak lagi dilihat sebagai impian utopis, tetapi sebagai tempat di mana keluarga Indonesia “normal” tinggal; atau lebih sebagai stereotipe normalitas yang didukung oleh lembaga-lembaga seperti Keluarga Berencana dan Orde Baru. Pada tahun 1990-an, masyarakat mulai membenci pemaksaan konsep normalitas yang kaku ini. Para konsumen menyadari bahwa mereka memperoleh kekaguman dari sesamanya bukan dari bagaimana mereka mematuhi batasan-batasan ini, melainkan dari bagaimana mereka melampauinya. Saat ini hampir semua rumah di daerah perumahan yang saya tinggali telah diindividualisasikan; diwarnai ulang, dibenahi, ditingkat. Pada tahun 2000-an, konversi menjadi “Rumah Spanyol” populer, tetapi akhir-akhir ini “Rumah Minimalis” tampaknya sedang tren. Tinggal di lingkungan perumahan yang saya tinggali memerlukan negosiasi dengan lapisan-lapisan makna yang kontradiktif ini.