Dipo Andy


Born August 21, 1975, Sumbawa, Indonesia

Education
Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta, Indonesia

Selected Group Exhibitions
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
2017
“Artstage Jakarta”, Gandaria City Jakarta, Indonesia
“Delayota Art-12”, Jogja National Museum Yogyakarta, Indonesia 
2016
“ARTJOG Universal Influence”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“Sapiens Free”, OHD Museum Magelang, Indonesia
“Mandiri Art Charity”, Jakarta, Indonesia
“How It Feels”, Mizuma Gallery, Singapore
2015
“ARTJOG Infinity in Flux”, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
“Geneng Street Art”, Galeri ISI Yogyakarta, Indonesia
“Untitled”, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia



MR0418031148

200x280cm | Acrylic on canvas
2018


Konsep Karya
These days we are experiencing the rampant phase of the technology of information and visual, what is in sight offers surface only, showing its skin and its form. There must be something more important and invisible, the one that does not just rely on the senses. It needs experience, spirituality, and knowledge to respond the visible world.
Through this work, I present the most basic language of fine art that explains about form, line, space, color, and texture. I do not want to explain or tell anything, instead, I let anyone cultivate their feeling, interpret, imagine, think and sort out the real and the fake one, the obvious and the obscure etc. However, one interprets this work is their own unique comprehension, experience, and perception. 


 
Hari ini kita mengalami fase teknologi informasi dan visual yang merajalela, yang tampak di depan mata menyajikan permukaan semata, memperlihatkan kulit dan bentuk. Mestinya disadari bahwa ada hal lebih penting dan yang tidak terlihat, yang tidak bertumpu pada panca indera semata. Butuh pengalaman, spiritualitas, dan pengetahuan untuk menyikapi dunia tampak.
Melalui karya ini saya menampilkan bahasa paling dasar dari seni rupa tentang bentuk, garis, ruang warna dan tekstur. Saya tidak ingin menjelaskan atau menceritakan tentang suatu hal, tapi membebaskan siapa saja untuk mengolah perasaan, menafsirkan, berimajinasi, berpikir dan memilah-milah sesuatu yang sejati dan yang palsu, yang terang dan yang samar dsb. Apapun cara memaknai karya ini merupakan pemahaman, pengalaman dan persepsi setiap individu.


Terang dan Samar : Sawang Sinawang #1

each 280x200cm | Oil, acrylic, mat, glue on canvas
2018


Konsep Karya
These days we are experiencing the rampant phase of the technology of information and visual, what is in sight offers surface only, showing its skin and its form. There must be something more important and invisible, the one that does not just rely on the senses. It needs experience, spirituality, and knowledge to respond the visible world.
Through this work, I present the most basic language of fine art that explains about form, line, space, color, and texture. I do not want to explain or tell anything, instead, I let anyone cultivate their feeling, interpret, imagine, think and sort out the real and the fake one, the obvious and the obscure etc. However, one interprets this work is their own unique comprehension, experience, and perception. 


 
Hari ini kita mengalami fase teknologi informasi dan visual yang merajalela, yang tampak di depan mata menyajikan permukaan semata, memperlihatkan kulit dan bentuk. Mestinya disadari bahwa ada hal lebih penting dan yang tidak terlihat, yang tidak bertumpu pada panca indera semata. Butuh pengalaman, spiritualitas, dan pengetahuan untuk menyikapi dunia tampak.
Melalui karya ini saya menampilkan bahasa paling dasar dari seni rupa tentang bentuk, garis, ruang warna dan tekstur. Saya tidak ingin menjelaskan atau menceritakan tentang suatu hal, tapi membebaskan siapa saja untuk mengolah perasaan, menafsirkan, berimajinasi, berpikir dan memilah-milah sesuatu yang sejati dan yang palsu, yang terang dan yang samar dsb. Apapun cara memaknai karya ini merupakan pemahaman, pengalaman dan persepsi setiap individu.

Terang dan Samar : Sawang Sinawang #2

280 x 200 cm | Oil, acrylic, mat, glue on canvas
2018


Konsep Karya
These days we are experiencing the rampant phase of the technology of information and visual, what is in sight offers surface only, showing its skin and its form. There must be something more important and invisible, the one that does not just rely on the senses. It needs experience, spirituality, and knowledge to respond the visible world.
Through this work, I present the most basic language of fine art that explains about form, line, space, color, and texture. I do not want to explain or tell anything, instead, I let anyone cultivate their feeling, interpret, imagine, think and sort out the real and the fake one, the obvious and the obscure etc. However, one interprets this work is their own unique comprehension, experience, and perception. 


 
Hari ini kita mengalami fase teknologi informasi dan visual yang merajalela, yang tampak di depan mata menyajikan permukaan semata, memperlihatkan kulit dan bentuk. Mestinya disadari bahwa ada hal lebih penting dan yang tidak terlihat, yang tidak bertumpu pada panca indera semata. Butuh pengalaman, spiritualitas, dan pengetahuan untuk menyikapi dunia tampak.
Melalui karya ini saya menampilkan bahasa paling dasar dari seni rupa tentang bentuk, garis, ruang warna dan tekstur. Saya tidak ingin menjelaskan atau menceritakan tentang suatu hal, tapi membebaskan siapa saja untuk mengolah perasaan, menafsirkan, berimajinasi, berpikir dan memilah-milah sesuatu yang sejati dan yang palsu, yang terang dan yang samar dsb. Apapun cara memaknai karya ini merupakan pemahaman, pengalaman dan persepsi setiap individu.

Terang dan Samar : Sawang Sinawang #3

280 x 200 cm | Oil, acrylic, mat, glue on canvas
2018


Konsep Karya
These days we are experiencing the rampant phase of the technology of information and visual, what is in sight offers surface only, showing its skin and its form. There must be something more important and invisible, the one that does not just rely on the senses. It needs experience, spirituality, and knowledge to respond the visible world.
Through this work, I present the most basic language of fine art that explains about form, line, space, color, and texture. I do not want to explain or tell anything, instead, I let anyone cultivate their feeling, interpret, imagine, think and sort out the real and the fake one, the obvious and the obscure etc. However, one interprets this work is their own unique comprehension, experience, and perception. 


 
Hari ini kita mengalami fase teknologi informasi dan visual yang merajalela, yang tampak di depan mata menyajikan permukaan semata, memperlihatkan kulit dan bentuk. Mestinya disadari bahwa ada hal lebih penting dan yang tidak terlihat, yang tidak bertumpu pada panca indera semata. Butuh pengalaman, spiritualitas, dan pengetahuan untuk menyikapi dunia tampak.
Melalui karya ini saya menampilkan bahasa paling dasar dari seni rupa tentang bentuk, garis, ruang warna dan tekstur. Saya tidak ingin menjelaskan atau menceritakan tentang suatu hal, tapi membebaskan siapa saja untuk mengolah perasaan, menafsirkan, berimajinasi, berpikir dan memilah-milah sesuatu yang sejati dan yang palsu, yang terang dan yang samar dsb. Apapun cara memaknai karya ini merupakan pemahaman, pengalaman dan persepsi setiap individu.