Agung Tato Suryanto


Born May 24, 1970, Surabaya, Indonesia

Education
1998 - 2008 
Fine Arts, High School of the Arts Wilwatikta (STKW), Surabaya, Indonesia
1989 - 1997
Architectural Engineering, University of August 17th,1945 (UNTAG), Surabaya, Indonesia
2012- 2014 
Postgraduate, Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta, Indonesia

Selected Solo Exhibitions
2014       
“Sudut Pandang Aerial Pada Struktur Kota”, Galeri UPT ISI Yogyakarta, Indonesia
2008
“Final Assignment: Blue in Sculpture Artwork”, Glass Room STKW, Surabaya, Indonesia
2006
“The Watchers”, Graha Pena Surabaya, Indonesia

Selected Group Exhibitions
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
2017 
“Menyapa Sang Hening”, Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia
“Jogja Street Sculpture Project: Jogjatopia”, Boulevard Jl. Suroto, Yogyakarta, Indonesia
“Seni Visual Bilateral 2.0”, Institut Seni Lukis Malaysia (MIA), Kuala Lumpur, Malaysia
“Dari Masa ke Rasa II”, Santrian Gallery, Sanur, Bali, Indonesia
2016
“I’m Out”, Galeri Cipta TIM, Jakarta, Indonesia
“Ruang Kecil Bicara”, Galeri Prabangkara, Surabaya, Indonesia
“Urbanstorming”, Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia
“Legenda Nusantara”, Galeri Koi Kemang, Jakarta, Indonesia
“Timur Establish”, Bumi Surabaya City Resort, Surabaya, Indonesia
2015 
“More than D2”, Vin Gallery, Ho Chi Minh City, Vietnam
“Mandiri Art Award”, Plaza Mandiri, Jakarta, Indonesia
“Dari masa ke rasa”, Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia
“Dhaksa Rupa Exhibition”, Visma Gallery, Surabaya, Indonesia
“UOB Painting of the Year 2015”, UOB Plaza, Jakarta, Indonesia
“Jogja Street Sculpture Project: Antawacana”, Jl. Kleringan, Yogyakarta, Indonesia
“Bienalle Makassar”, Makassar, Indonesia

Awards
2015
Favorit Winner, Mandiri Art Award, Indonesia
2013 
The Winner of Gold Trophy, Established Artist UOB Painting 2013 Award, Jakarta, Indonesia 
2012
Finalist, Bandung Contemporary Art Award, Bandung, Indonesia



The heart of stone

250 x 150 cm | Silicone rubber, pump, electronic
2018


Konsep Karya
Stone is a solid and hard object. And heart is something inside the human body that stores the emotional feelings. The heart of stone is an expression for a persistent, foolish and stubborn heart. That expression is a phrase to explain human through the natures of an object. Both have their own unique elements, different and contrast. If elements from both were mixed, a new perception would emerge. Is it a hardened heart or a beating stone? Is it turning a living thing into an object or turning an object into a living thing?
 This piece is a question that drives the emergence of new perception and visual impressions.




Batu adalah sebuah benda mati yang keras dan padat. Dan hati adalah sesuatu di dalam tubuh manusia  yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan perasaan.
Hati sekeras batu adalah sebuah ungkapan untuk hati yang keras, bebal dan tak mudah diubah.  Ungkapan tersebut adalah gaya bahasa yang dibuat dengan membuat manusia menjadi memiliki sifat-sifat benda mati. Keduanya adalah elemen yang berbeda dan kontras. Jika kedua elemen tersebut digabungkan akan menimbulkan persepsi baru. Hati yang membatu ataukah sebuah batu yang berdenyut? Mematikan benda hidup ataukah menghidupkan benda mati?


Karya ini menjadi sebuah pertanyaan mendorong munculnya persepsi dan kesan-kesan visual baru.