Aditya Novali


Born November 17, 1978, Solo, Indonesia

Education
1997-2002
Engineering in Architecture, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia
2006-2008
Conceptual Design, Design Academy Eindhoven, The Netherlands

Selected Solo Exhibitions
2017
“Caprice”, Discoveries section-Art Basel Hong Kong, Hong Kong 
2016
“Acrylic”, Roh Projects, Jakarta, Indonesia
2014
“Painting Sense”, Roh Projects, Jakarta, Indonesia

Selected Group Exhibitions 
2018
“ARTJOG Enlightenment”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia 
“Diaspora: Exit, Exile, Exodus of Southeast Asia”, MAIIAM Contemporary Art Museum, Chiangmai, Thailand
“Shared Coordinates II”, The Arts House, Singapore
2017
“Sunshower: Contemporary Art from Southeast Asia 1980s to Now”, Mori Art Museum and The National Art Center, Tokyo, Japan
“Multiple Spectacle: Art from Asia”, Ningbo Museum of Art, Ningbo, China
“Age of Hope Biennale Jogja XIV- Equator #4”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“Lines, Borders, Boundaries, and The In-Betweens”, Yamamoto Gendai, Tokyo, Japan
2016
“Imaginary Synonym”, Tokyo Wonder Site, Tokyo, Japan
“Prudential Eye Awards 2016”, Art Science Museum, Singapore
“Plugged”, Pearl Lam Gallery, Singapore
“EkstrakurikuLab Serrum”, Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta, Indonesia
“The Man Who Fell Into Art: Collecting as a Form of Personal Narrative”, Song Eun Art Space, Seoul, South Korea
“Indonesialand”, Selasar Sunaryo Arts Space, Bandung, Indonesia
“Constituent Concreteness”, Mizuma Gallery, Gilman Barrack, Singapore

Awards
2016  
Finalist, Emerging Artist using Installation, Prudential Eye Awards
2011  
Best Artwork, BaCAA (Bandung Contemporary Art Award 2010) 
2010  
3rd winner, Jakarta Art Award 2010
Finalist, Sovereign Asian Art Prize

Residency
2016  
International Creator Program, Tokyo Wonder Site, Tokyo, Japan
2014  
Makan Angin #2, Cemeti Art House, Yogyakarta, Indonesia



Life (Less) : 21 m2 of Living Space #1

160 x 100 x 12 cm | wood, plexiglass, stell, cast, resin, led light, adaptor, multiboard, ink, paint
2018


Konsep Karya
Housing type 21 is commonly known as a minimal standard for a house in Indonesia. 21 m2 of living space is quite limited but it is interesting to be observed as a reflection and metaphor of how most of the people here live and struggle with this country’s general condition. By using three basic physical elements commonly used to build a house, which are wall, floor and roof, these series of works present the abstraction from a complexity of many things that happen inside a house which remind us on the importance of living in a space than the living space itself.

Rumah tipe 21 dikenal sebagai standar minimal luas sebuah hunian di Indonesia. 21 m2 adalah ruang gerak yang cukup terbatas tetapi hal ini justru menjadi menarik untuk diamati sebagai refleksi dan metafora bagaimana mayoritas masyarakat hidup dan berjuang dengan situasi negara ini secara keseluruhan. Dengan menggunakan tiga elemen fisik dasar yang lazim digunakan dalam membangun sebuah rumah yaitu dinding, lantai dan atap, seri karya ini menyajikan abstraksi dari sebuah kompleksitas berbagai hal yang terjadi di dalam sebuah hunian yang mengingatkan kita bahwa lebih penting untuk memberi makna menghuni dibandingkan hunian itu sendiri.

Life (Less) : 21 m2 of Living Space #2

160 x 100 x 12 cm | wood, plexiglass, stell, cast, resin, led light, adaptor, multiboard, ink, paint
2018


Konsep Karya
Housing type 21 is commonly known as a minimal standard for a house in Indonesia. 21 m2 of living space is quite limited but it is interesting to be observed as a reflection and metaphor of how most of the people here live and struggle with this country’s general condition. By using three basic physical elements commonly used to build a house, which are wall, floor and roof, these series of works present the abstraction from a complexity of many things that happen inside a house which remind us on the importance of living in a space than the living space itself.

Rumah tipe 21 dikenal sebagai standar minimal luas sebuah hunian di Indonesia. 21 m2 adalah ruang gerak yang cukup terbatas tetapi hal ini justru menjadi menarik untuk diamati sebagai refleksi dan metafora bagaimana mayoritas masyarakat hidup dan berjuang dengan situasi negara ini secara keseluruhan. Dengan menggunakan tiga elemen fisik dasar yang lazim digunakan dalam membangun sebuah rumah yaitu dinding, lantai dan atap, seri karya ini menyajikan abstraksi dari sebuah kompleksitas berbagai hal yang terjadi di dalam sebuah hunian yang mengingatkan kita bahwa lebih penting untuk memberi makna menghuni dibandingkan hunian itu sendiri.

Life (Less) : 21 m2 of Living Space #3

100 x 110 x 12 cm | wood, plexiglass, stell, cast, resin, led light, adaptor, multiboard, ink, paint
2018


Konsep Karya
Housing type 21 is commonly known as a minimal standard for a house in Indonesia. 21 m2 of living space is quite limited but it is interesting to be observed as a reflection and metaphor of how most of the people here live and struggle with this country’s general condition. By using three basic physical elements commonly used to build a house, which are wall, floor and roof, these series of works present the abstraction from a complexity of many things that happen inside a house which remind us on the importance of living in a space than the living space itself.

Rumah tipe 21 dikenal sebagai standar minimal luas sebuah hunian di Indonesia. 21 m2 adalah ruang gerak yang cukup terbatas tetapi hal ini justru menjadi menarik untuk diamati sebagai refleksi dan metafora bagaimana mayoritas masyarakat hidup dan berjuang dengan situasi negara ini secara keseluruhan. Dengan menggunakan tiga elemen fisik dasar yang lazim digunakan dalam membangun sebuah rumah yaitu dinding, lantai dan atap, seri karya ini menyajikan abstraksi dari sebuah kompleksitas berbagai hal yang terjadi di dalam sebuah hunian yang mengingatkan kita bahwa lebih penting untuk memberi makna menghuni dibandingkan hunian itu sendiri.

Life (Less) : 21 m2 of Living Space #4

105 x 115 x 12 cm | wood, plexiglass, stell, cast, resin, led light, adaptor, multiboard, ink, paint
2018


Konsep Karya
Housing type 21 is commonly known as a minimal standard for a house in Indonesia. 21 m2 of living space is quite limited but it is interesting to be observed as a reflection and metaphor of how most of the people here live and struggle with this country’s general condition. By using three basic physical elements commonly used to build a house, which are wall, floor and roof, these series of works present the abstraction from a complexity of many things that happen inside a house which remind us on the importance of living in a space than the living space itself.

Rumah tipe 21 dikenal sebagai standar minimal luas sebuah hunian di Indonesia. 21 m2 adalah ruang gerak yang cukup terbatas tetapi hal ini justru menjadi menarik untuk diamati sebagai refleksi dan metafora bagaimana mayoritas masyarakat hidup dan berjuang dengan situasi negara ini secara keseluruhan. Dengan menggunakan tiga elemen fisik dasar yang lazim digunakan dalam membangun sebuah rumah yaitu dinding, lantai dan atap, seri karya ini menyajikan abstraksi dari sebuah kompleksitas berbagai hal yang terjadi di dalam sebuah hunian yang mengingatkan kita bahwa lebih penting untuk memberi makna menghuni dibandingkan hunian itu sendiri.