Sea Remembers:
Tentang yang Tak Tampak dan Luput dari Amatan

Apa yang dibayangkan manusia tentang segala sesuatu yang berada di bawah permukaan? Misteri? Horor? Ketakutan? Atau ketidaktahuan?

Di atas permukaan semuanya nampak dan kasat mata. Perasaan telah mengetahui apa-apa yang ada di atas permukaan kadangkala membuat manusia berhenti. Berhenti melangkah dan berhenti menyelam. Dan pada saat manusia berhenti melangkah dan menyelam karena menganggap dirinya telah memiliki pengetahuan yang cukup, maka ia akan terjebak pada kedangkalan.

Mulyana, alumnus Pondok Pesantren Gontor dan Pendidikan Seni Rupa UPI, Bandung, memiliki cara pandang yang berbeda dalam hal ini. Mulyana lahir di Bandung pada tahun 1984. Pengalaman personal Mulyana semasa sekolah dan kuliah yang terbiasa dengan pandangan remeh dari kawan-kawannya membuatnya gusar dan sempat meruntuhkan kepercayaan dirinya. Hingga akhirnya dia menemukan praktik kesenian sebagai cara untuk menghadapi perasaan gusar dalam dirinya.

Mulyana menyukai praktik seni yang berbentuk modular. Pengalaman bekerja di Tobucil, Bandung membuat dia semakin serius dan akhirnya memilih merajut sebagai teknik berkesenian yang dia lakoni. Dalam pandangannya, merajut memiliki elemen reflektif dan kontemplatif. Merajut menuntut konsentrasi dari pikiran dan tubuh yang penuh. Dia menemukan ketenangan dalam melakukan kerja seni yang menuntut fokus pengerjaan yang tinggi. Dengan tubuh dan pikiran yang bekerja, perasaannya dapat beristirahat.

Mulyana memiliki ketakjuban terhadap dunia bawah laut. Baginya, dunia bawah laut kerapkali menyimpan misteri dan rahasia yang membuat orang takut. Ketakutan yang barangkali lahir karena ketidaktahuan. Keanehan dan keajaiban yang disuguhkan oleh alam bawah laut menjadi inspirasi bagi Mulyana untuk menghadirkan figur Gurita yang menyerupai monster tapi hadir dengan aneka warna. Selain itu, Mulyana juga menghadirkan figur-figur lain dari dunia bawah laut, tak luput tempat hidup (habitat) mahluk bawah laut, seperti terumbu karang dan koral ini pun turut dihadirkan oleh Mulyana. Bentuk ini telah dihadirkan oleh Mulyana pada pameran tunggalnya yang berjudul “Mogus World” di Bandung (2012) dan dikembangkan lagi pada karya selanjutnya yang berjudul “Imaginarium: Over The Ocean Under The Sea” yang ditampilkannya di Singapore Art Museum, Singapura pada tahun 2016 yang lalu.

Dalam proses kreatifnya, Mulyana berangkat dengan bangunan cerita fiksi yang kemudian dapat membantu menghidupkan setiap karakter dan bentuk yang dia hadirkan. Mulyana banyak bekerja dengan menggunakan teknik rajut dan crochet. Penggabungan warna-warni yang digunakan Mulyana dalam karyanya merupakan salah satu upaya untuk berdialog dengan stereotip orang yang selama ini menganggap bahwa mahluk bawah laut itu menyeramkan, bahkan jahat dan berbahaya. Dengan menggunakan warna-warna yang menarik, Mulyana mencoba untuk bernegosiasi dengan pandangan itu.

Lebih lanjut, kekaguman Mulyana terhadap dunia bawah laut merupakan bentuk kekagumannya terhadap Tuhan. Dengan mengambil inspirasi dari apa yang telah tersedia di bentangan alam bawah permukaan laut, Mulyana sedang ingin membicarakan apa yang kadang luput dari amatan. Mulyana ingin mendiskusikan apa yang dianggap aneh oleh orang kebanyakan, jangan-jangan keanehan hanya persoalan kebiasaan dan pakem saja. Sementara dunia nyata alam bawah laut menyajikan keanehan dan keajaiban yang mungkin lebih ajaib dari dunia fiksi yang selama ini kita bayangkan.

Tahun ini Mulyana akan menghadirkan tema dunia bawah laut dan karakter-karakter khasnya ke muka publik ARTJOG sebagai Commision Works. Dalam kaitannya sebagai Commission Works ARTJOG, teknik rajutan memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri, karena sebagaimana biasa ditemui selama ini karya-karya yang ditunjuk menjadi Commision Works memiliki wujud yang besar. Dan Mulyana akan menjawab hal tersebut dengan tetap menggunakan teknik yang selama ini ia gunakan, yaitu teknik rajutan. Seluruh proses pengerjaan akan dibuat dengan tangan, tanpa mesin. Untuk itu Mulyana mengajak dan meminta bantuan dengan para ibu-ibu di Sorogenen. Ibu-ibu tersebut Mulyana kenal saat dia mengadakan workshop merajut dan hingga saat ini merekalah yang terus mendukung dan membantu Mulyana bekerja. Hubungan yang diciptakan Mulyana dengan para ibu-ibu ini pun bukanlah hubungan yang transaksional semata, ada pengetahuan dan nilai-nilai lain yang dipertukarkan di sana.

Tema yang diangkat oleh ARTJOG pada tahun ini adalah Pencerahan/Enlightenment. Pencerahan dalam hal ini dipahami sebagai upaya untuk mengusir kegelapan. Kegelapan dapat juga dimaknai secara luas sebagai pandangan sempit, fanatisme, etnosentrisme, ultra-nasionalisme, fundamentalisme, kekerasan, dan hal-hal yang abai pada nilai-nilai kemanusiaan. Pencerahan bisa hadir dari praktik berkesenian dan atau dari kehidupan sehari-hari, ia juga mesti mampu menerangi dirinya sendiri (seni).

Tema ini sejalan dengan cara pandang dan praktik yang selama ini dilakukan oleh Mulyana. Mulyana tengah melakoni sebuah kerja seni yang memiliki fungsi reflektif kepada dirinya sendiri. Di mana dia menggunakan medium seni sebagai sarana untuk mengatasi pergulatan dengan dirinya sendiri, serta penggunaan teknik merajut yang bertumpu pada ketelitian kerja dan ketidakterikatannya terhadap mesin sebagai sebuah upaya untuk mempertanyakan lagi modernitas dalam dunia seni kontemporer. Mulyana juga turut membangun jejaring dengan orang-orang di sekitarnya, dan mampu memaknai ulang posisi seni kriya dalam dunia seni kontemporer yang selama ini selalu dipisahkan dari seni murni. Dia juga mampu memberi tanggung jawab terhadap pada publik seni yang lebih luas.

Dalam karya yang berjudul Sea Remembers, Mulyana akan menghadirkan figur serangkaian rajutan koral dan terumbu karang warna warni yang melekat pada kerangka paus serta rajutan sekumpulan ikan yang akan membentuk serupa ledakan yang dihasilkan oleh bom atom. Dia menghadirkan apa yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan, mengajak kita menyelam lebih dalam—secara harafiah dan metaforis.

Dengan demikian, Mulyana sedang ingin bernegosiasi dengan pandangan umum tentang ketakutan atas apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Barangkali ketakutan tersebut muncul dari dalam kepala kita sendiri yang penuh praduga dan ketidaktahuan. Bentuk ikan-ikan yang berkumpul hingga menyerupai bom atom adalah sebagai pengingat bahwa manusia memiliki kekuatan untuk mencipta, tapi sekaligus kekuatan untuk menghancurkan. Kita selalu punya pilihan, akan merawat keindahan tersebut atau merusaknya. Mulyana mengangkat kesemua hal tersebut ke atas permukaan sebagai kado untuk kita semua; sebagai secuil pencerahan.